Krisis Senjata Makin Parah Akibat Perang Iran, AS Desak Industri Percepat Pengiriman Amunisi
US ArmyAIRSPACE REVIEW – Pemerintah Amerika Serikat kini menghadapi krisis persediaan persenjataan yang kian mengkhawatirkan akibat kecamuk konflik berkepanjangan dengan Iran selama lima bulan terakhir.
Menyikapi situasi krusial tersebut, Departemen Perang AS (Pentagon) secara tegas mendesak para kontraktor pertahanan dalam negeri untuk segera meningkatkan kapasitas produksi dan mempercepat jadwal pengiriman guna mengisi kembali stok amunisi yang tergerus parah.
Melalui memo resmi yang diterbitkan pada Rabu lalu, Wakil Menteri Pertahanan AS, Steve Feinberg, memberikan tenggat waktu yang sangat ketat selama 21 hari kepada para pemimpin industri pertahanan.
Dalam instruksinya, seperti diberitakan The Washington Post, Feinberg meminta kontraktor menyerahkan rencana konkret untuk mendorong jadwal pengiriman yang jauh lebih cepat serta menggenjot produksi kemampuan tempur kritis secara agresif.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi darurat saat ini, proses pengembangan persenjataan yang memakan waktu hingga bertahun-tahun sudah tidak dapat diterima lagi, sehingga ekspansi kapasitas produksi secara mendesak menjadi keharusan.
Patriot dan THAAD
Anjloknya persediaan senjata paling ketara terjadi pada amunisi sistem pertahanan udara canggih, seperti pencegat rudal Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
Berdasarkan estimasi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), persediaan pencegat Patriot AS merosot tajam dari 2.330 unit sebelum perang menjadi sekitar 1.030 unit saat gencatan senjata berlaku pada April lalu.
Laporan terbaru bahkan mengindikasikan stok Patriot kini tinggal berada di kisaran 759 hingga 827 unit, yang mencerminkan penurunan setidaknya 65 persen dari tingkat sebelum konflik.
Hal serupa terjadi pada sistem THAAD, di mana persediaan pencegatnya merosot dari 452 unit sebelum perang menjadi berkisar antara 234 hingga 278 unit saat ini, meskipun telah mendapatkan sedikit pengisian ulang.
Kelangkaan amunisi pertahanan udara ini membawa konsekuensi taktis yang sangat berisiko bagi pasukan AS dan para sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Baca di Sini: Krisis Rudal Rp90 Miliar vs Drone Rp360 Juta: Bagaimana Iran Menguras Benteng Udara AS
Analisis CSIS memperingatkan bahwa tergerusnya persediaan dapat memaksa militer AS melakukan penghematan penggunaan rudal pencegat.
Akibatnya, pasukan Amerika mungkin terpaksa meluncurkan lebih sedikit pencegat saat menghalau gempuran drone maupun rudal Iran, yang secara langsung meningkatkan potensi proyektil musuh lolos menembus benteng pertahanan dan menghantam sasaran.
Perdebatan Sengit di Kongres
Guna menopang pembiayaan perang sekaligus menggerakkan manufaktur militer secara masif, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengindikasikan bahwa pemerintah tengah mengupayakan suntikan dana raksasa.
Anggaran tambahan yang diajukan diperkirakan dapat mencapai 200 miliar USD (sekitar Rp3.200 triliun).
Kendati demikian, langkah pemenuhan dana perang ini diprediksi tidak akan berjalan mudah karena harus menghadapi perdebatan politik dan pertarungan legislatif yang sengit di Kongres AS. (RNS)
