Senjata luar angkasa China disorot, jenderal AS di depan Senat: Kemajuannya mencengangkan!

Wahana peluncur luar angkasa Kuaizhoi-1A ChinaChina in Space
Wahana peluncur luar angkasa Kuaizhoi-1A China.

AIRSPACE REVIEW – Letnan Jenderal Douglas A. Schiess, calon kuat Kepala Operasi Antariksa (Chief of Space Operations) Amerika Serikat, memperingatkan bahwa Beijing bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan dalam mengembangkan kemampuan superioritas antariksa dan senjata antisatelit. Kemajuan pesat teknologi militer luar angkasa China kini menjadi sorotan utama Pentagon.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Schiess dalam saat menjalani Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) oleh Senat AS pada 16 Juli 2026, seperti dilaporkan Air & Space Forces Magazine.

Letjen Schiess, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Operasi Antariksa AS, diproyeksikan akan menggantikan Jenderal B. Chance Saltzman yang telah memimpin Angkatan Luar Angkasa AS (U.S. Space Force) sejak tahun 2022.

China Membangun Rantai Pembunuh di Orbit

Ketika ditanya secara spesifik oleh Senator Roger Wicker mengenai ancaman nyata yang dibawa oleh China di wilayah Pasifik, Letjen Schiess membeberkan serangkaian perkembangan militer Beijing yang mengkhawatirkan.

Dikatakan bahwa China tidak hanya sekadar meluncurkan satelit biasa, melainkan telah berhasil membangun jaringan militer yang terintegrasi di luar angkasa.

Beijing membangun sistem Kill Chain (Rantai Pembunuh), yaitu infrastruktur antariksa yang mampu mendeteksi, melacak, dan mengunci posisi kelompok tempur kapal induk (carrier strike groups) serta pesawat pembom strategis AS dari jarak yang jauh lebih cepat dan akurat. Informasi ini kemudian terhubung langsung dengan sistem rudal dan persenjataan bumi mereka.

Baca Juga: China perlihatkan pertama kalinya HQ-29, senjata antirudal balistik dan antisatelit orbit rendah berjangkauan 400-600 km

Bersamaan dengan hal ini, Negeri Tirai Bambu aktif menguji coba teknologi penghancur satelit dari darat (ground-based anti-satellite).

Lalu dalam hal peperangan elektronik (EW), dikatakan bahwa kemampuan China dalam melakukan gangguan sinyal (jamming) dan interferensi frekuensi radio di ruang angkasa semakin masif, yang berpotensi membutakan komunikasi militer AS saat konflik terjadi.

Schiess menekankan, ruang angkasa kini bukan lagi sekadar area pendukung komunikasi, melainkan telah sepenuhnya bergeser menjadi domain peperangan aktif (warfighting domain). Keunggulan di orbit menjadi kunci utama untuk mencegah atau memenangkan konflik fisik di Bumi.

Strategi AS: Gandakan Personel

Menghadapi lompatan teknologi China yang luar biasa cepat, Space Force AS, yang saat ini merupakan cabang militer termuda dan terkecil di Amerika dengan 10.000 prajurit serta 2.000 warga sipil, berencana melakukan ekspansi besar-besaran.

Jika resmi disetujui untuk memimpin, Schiess menyatakan akan mengawal rencana pertumbuhan agresif ini. Target jangka pendek di tahun 2027, ujarnya, adalah menambah 2.800 personel berseragam dan 2.000 pegawai sipil baru.

Baca Juga: Pentagon Leaks: Rudal antisatelit ruang angkasa China mengintai satelit AS

Sementara target jangka panjang, melipatgandakan jumlah pasukan berseragam hingga mencapai 20.000 personel dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Langkah ini dirasa mendesak karena selain masalah teknologi, laporan internal pemerintah AS (GAO) sempat menyoroti adanya kekosongan posisi penting di tubuh Space Force yang perlu segera diisi guna menjaga kesiapan tempur mereka di ruang siber dan antariksa. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *