Kolaborasi senyap Type 039B China dan Kilo-class Rusia membuat AS waswas

Kapal selam Yuan-class China dan Kilo-class RusiaREUTERS, TASS
Kapal selam Yuan-class China dan Kilo-class Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Kolaborasi militer antara China dan Rusia memasuki babak baru yang kian mendalam di sektor bawah laut. Latihan angkatan laut bertajuk “Joint Sea-2026” yang berlangsung di Qingdao menjadi panggung unjuk kekuatan bagi dua kapal selam konvensional senyap paling mematikan milik masing-masing negara, yaitu kapal selam China Type 039B Yuan-class dan kapal selam Rusia Project 636.3 Improved Kilo-class.

Latihan ini bukan sekadar simulasi rutin, melainkan sinyal kuat atas meningkatnya koordinasi operasional kedua negara di kawasan Indo-Pasifik yang berpotensi menyulitkan dominasi bawah laut Amerika Serikat beserta sekutunya.

Penggabungan kedua aset bawah laut ini menghadirkan tantangan taktis yang serius karena masing-masing memiliki keunggulan spesifik di perairan dangkal alias pesisir.

Yuan-class

Yuan-class adalah kapal selam serang konvensional mutakhir Angkatan Laut China (PLAN) yang dilengkapi dengan teknologi Air Independent Propulsion (AIP). Teknologi ini memungkinkan kapal selam bertahan di bawah air jauh lebih lama tanpa perlu sering muncul ke permukaan untuk mengisi baterai (snorkeling), sehingga sangat sulit dideteksi.

Kapal dilengkapi sonar modern, sistem peredam suara yang canggih, serta kemampuan meluncurkan senjata mematikan.

Dalam hal persenjataan, Type 039B yang mulai dioperasikan sejak awal dekade 2010-an (Type 039A tahun 2006), dilengkapi dengan enam tabung peluncur torpedo kaliber 533 mm. Jenis torpedo yang diluncurkan adalah torpedo berat pemandu canggih seri Yu-6 dan torpedo berpemandu serat optik/akustik Yu-10.

Baca Juga: China menawarkan kapal selam kelas Yuan bekas pakai Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat ke Indonesia

Kapal selam ini juga dilengkapi dengan rudal jelajah antikapal (ASHM) YJ-82 (varian luncur bawah air), rudal jelajah supersonik YJ-18, serta rudal YJ-19 yang memiliki daya jangkau lebih jauh. Tidak ketinggalan, ranjau laut pintar juga menjadi pelengkap untuk misi penutupan jalur laut (sea denial).

Improved Kilo-class

Sementara Improved Kilo-class adalah salah satu kapal selam diesel-elektrik paling senyap di dunia. Kapal ini dipersenjatai dengan torpedo berat serta rudal jelajah Kalibr yang mampu menghantam target darat maupun kapal permukaan. Kehadirannya membawa pengalaman operasional senyap khas Rusia yang matang ke dalam latihan bersama.

Project 636.3 Improved Kilo-class (Rusia) mulai berdinas sejak tahun 2014 (desain awal Project 877 Kilo-class berdinas sejak tahun 1980) di Armada Laut Hitam. Kapal selam ini terus diproduksi untuk Armada Pasifik hingga tahun 2025.

Untuk persenjataan, kapal dilengkapi dengan enam tabung peluncur torpedo kaliber 533 mm dengan sistem pengisian otomatis cepat. Improved Kilo-class mampu membawa total hingga 18 unit senjata kombinasi torpedo dan rudal.

Baca Juga: Angkatan Laut Rusia menerima kapal selam terakhir dari enam Proyek 636.3

Torpedo yang dibawa adalah torpedo berat jenis TEST-71 dan USET-80. Sementara untuk rudal tersedia rudal jelajah Kalibr-PL, termasuk varian serangan darat 3M14K dan varian antikapal 3M54K.

Untuk ranjau laut, kapal dapat membawa hingga 24 unit jika tidak membawa torpedo/rudal. Sementara untuk pertahanan udara, tersedia rudal antipesawat portabel (MANPADS) seri Igla-1 atau Strela-3, yang digunakan saat kapal berada di permukaan.

Skenario Tempur Intensitas Tinggi

Menurut rilis yang dibagikan militer China dan Rusia, latihan bersama tersebut diadakan sejak 6 Juli 2026. Latihan besar yang dipimpin oleh PLAN ini melibatkan 10 unit kapal yang mencakup kapal tempur permukaan, kapal selam, penerbangan angkatan laut, serta kapal pendukung.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Joint Sea-2026 berfokus penuh pada peperangan bawah laut, bidang yang paling sensitif bagi kedua negara.

Beberapa materi latihan, antara lain mencakup simulasi tempur riil, yaitu latihan tembak langsung (live-fire), pengintaian bersama, pertahanan udara terintegrasi, serta serangan antikapal permukaan.

Materi latihan lainnya adalah penyelamatan kapal selam bersama. Ini merupakan salah satu aspek teknis paling rumit. Keberhasilan latihan penyelamatan bilateral ini membuktikan adanya kesesuaian prosedur komunikasi, kecocokan kapal penyelamat khusus, sistem menyelam dalam, dan integrasi komando tingkat tinggi.

Selain itu, latihan bersama dua negara ini juga mencakup perencanaan taktis di darat. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum pelaksanaan fase laut. Kru militer kedua negara melakukan simulasi taktis di atas meja (tabletop exercises), seminar profesional, dan kunjungan silang antar-kapal di Qingdao untuk menyamakan frekuensi sandi dan komunikasi.

Implikasi Geopolitik di Indo-Pasifik

Meskipun kapal selam konvensional ini kalah dari segi kecepatan dan daya jelajah global jika dibandingkan dengan kapal selam nuklir kelas Virginia milik AS, karakteristik keduanya justru menjadi ancaman utama di perairan dangkal dan titik-titik sempit (chokepoints) kawasan.

Kawasan Selat Taiwan, Laut China Timur, dan Laut China Selatan merupakan wilayah krusial yang kemungkinan besar menjadi medan konflik regional. Di perairan littoral seperti inilah, kombinasi Type 039B dan Improved Kilo-class menjadi sangat berbahaya dan sulit dilacak oleh armada pelacak antikapal selam (ASW) sekutu.

Pascalatihan, kapal-kapal kedua negara tidak langsung pulang melainkan melanjutkan dengan patroli bersama di Samudra Pasifik. Langkah ini memperluas kehadiran militer China-Rusia secara terkoordinasi dari Laut China Timur hingga wilayah Pasifik Barat yang lebih luas.

Bagi para perencana pertahanan AS dan NATO, evolusi latihan Joint Sea sejak 2012 hingga tahun 2026 ini menunjukkan bahwa transfer keahlian bawah laut Rusia ke China berjalan semakin mulus, yang lambat laun dapat mengubah peta keseimbangan kekuatan bawah laut di Indo-Pasifik.

Upaya Responsif AS dan Sekutu

Menghadapi poros bawah laut Beijing-Moskow yang semakin terintegrasi, dalam catatan Airspace Review, Amerika Serikat tidaklah tinggal diam. Washington secara agresif memperkuat keunggulan asimetrisnya melalui pengerahan dan rotasi kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) kelas Virginia dan Los Angeles ke pangkalan-pangkalan strategis di Guam dan Yokosuka, Jepang.

Kapal-kapal selam nuklir ini memiliki daya tahan tak terbatas dan kecepatan tinggi yang dirancang untuk berburu kapal selam lawan di laut dalam sekaligus memantau pergerakan dari luar celah pulau-pulau strategis (First Island Chain).

Selain itu, AS terus mengandalkan jaringan mata-mata bawah air berbasis sensor akustik canggih serta armada pesawat patroli maritim P-8A Poseidon untuk memetakan “titik buta” di Selat Taiwan dan Laut China Selatan.

Di tingkat regional, AS mempererat arsitektur keamanan kolektif melalui pakta AUKUS bersama Australia dan Inggris. Proyek mercusuar ini difokuskan untuk membantu Australia membangun dan mengoperasikan armada kapal selam bertenaga nuklirnya sendiri, yang di masa depan diproyeksikan bertugas menutup celah-celah maritim kritikal di Asia Tenggara menuju Samudra Hindia dan Pasifik.

Aliansi ini juga memperkuat interoperabilitas latihan Peperangan Antikapal Selam (ASW) regional melibatkan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) dan Australia, yang secara intensif meningkatkan kemampuan deteksi sonar mereka terhadap kapal-kapal selam konvensional ultra-senyap seperti kelas Yuan dan Kilo.

Lebih jauh lagi, strategi penangkalan (deterrence) AS kini bergeser ke arah pemanfaatan teknologi otonom. Pentagon mulai mengintegrasikan kendaraan bawah air tanpa awak (UUV) berukuran besar dan kapal permukaan otonom (USV) pelacak kapal selam untuk membentuk pagar pengawasan digital di selat-selat sempit sekitar Taiwan dan Filipina.

Langkah integrasi teknologi otonom, peningkatan deteksi sonar regional, serta penguatan pakta militer multidimensi ini menjadi andalan utama AS beserta para sekutunya demi memastikan wilayah krusial Indo-Pasifik tidak jatuh ke dalam hegemoni bawah laut poros China-Rusia.

Kalau dikatakan bahwa Amerika Serikat waswas dengan langkah bersama yang dilakukan China dan Rusia, ya tentu saja begitu. Bagaimana pun, sebagai negara yang telah lama “memimpin” dunia dan tidak ingin hegemoninya lepas begitu saja, Washington tentu melakukan berbagai upaya untuk tidak kedodoran.

Sebelum musuh menyerang, AS pastinya sudah mempersiapkan strategi penghancuran lawan terlebih dahulu, menerapkan dalil Preemtive Strike seperti yang telah dilakukannya dalam banyak kasus. Demikian. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *