Angkatan Udara India ajukan dukungan teknis dan logistik armada Rafale ke Prancis

Indian Air Force Rafale fighter jetIAF
Indian Air Force Rafale fighter jet.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara India (IAF) dilaporkan telah mengajukan Request for Proposal (RFP) kepada perusahaan Prancis, Safran Aircraft Engines, untuk memastikan kesinambungan dukungan teknis dan logistik bagi 36 jet tempur Rafale milik mereka.

Hal ini dilakukan mengingat paket dukungan awal dari perjanjian antarpemerintah tahun 2016 akan segera berakhir pada September 2026.

Kontrak transisi jangka pendek ini dirancang untuk mencegah adanya kekosongan dukungan sembari India memfinalisasi perjanjian kerja sama jangka panjang yang dijadwalkan selesai akhir tahun ini.

Detail Dukungan Sementara

Berdasarkan dokumen tender, pengaturan transisi ini akan berlaku selama lima bulan terhitung sejak 18 September 2026.

Kontrak ini mencakup seluruh 36 jet tempur Rafale standar F3R milik IAF dengan perkiraan total mencapai 2.250 jam terbang.

Safran Aircraft Engines, selaku produsen mesin M88 yang digunakan Rafale, diminta untuk menjamin ketersediaan mesin serta suku cadang terkait guna mendukung ritme operasional kedirgantaraan India.

Dimasukannya seluruh 36 badan pesawat secara eksplisit dalam dokumen ini, sekaligus menepis “rumor” yang berkembang selama ini, mengacu pada media India.

Sebelumnya, akun-akun di Pakistan mengeklaim beberapa jet Rafale India “hancur” dalam serangan balasan pasca-insiden Pahalgam.

Program MRFA dan “Make in India”

Langkah pemeliharaan armada Rafale India dilakukan di tengah ambisi pertahanan yang lebih besar.

Pada akhir Mei 2026, New Delhi telah mengirimkan Letter of Request (LoR) kepada pemerintah Prancis untuk program Multi-Role Fighter Aircraft (MRFA) yang memproyeksikan pengadaan hingga 114 jet tempur baru.

Dalam pembicaraan bilateral antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Emmanuel Macron, disepakati bahwa proyek ini akan mengakar kuat pada inisiatif “Make in India”.

Targetnya adalah transfer teknologi yang progresif, dengan kandungan lokal kedepannya mencapai 55% hingga 60% setelah lini produksi di India berjalan sepenuhnya.

Selain itu, IAF meminta integrasi penuh senjata domestik India pada batch masa depan, seperti rudal udara-ke-udara Astra dan senjata anti-landasan pacu SAAW.

India juga mengusulkan peningkatan (upgrade) bagi 36 Rafale F3R yang ada saat ini ke standar F4 guna menyelaraskan kemampuan radar AESA RBE2 yang lebih tahan terhadap jammer (pengacau sinyal).

Penurunan Skadron Jet Tempur India

Kesiapan penuh armada Rafale menjadi sangat krusial bagi India saat ini. Hingga pertengahan 2026, IAF hanya mengoperasikan sekitar 29 hingga 31 skuadron tempur.

Angka tersebut berada jauh di bawah target ideal yakni 42 skuadron. Penurunan ini terjadi pasca-pensiunnya jet uzur MiG-21 Bison pada tahun 2025.

Meskipun India sedang menggenjot produksi jet tempur dalam negeri, Tejas Mk1A —yang pengiriman pertamanya ke IAF dijadwalkan pada September 2026 dengan target 24 pesawat di akhir tahun untuk ditempatkan di Rajasthan— armada Rafale tetap menjadi tulang punggung utama pertahanan udara India dalam masa transisi kritis ini. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *