AS setujui pelatihan Super Hornet dan Growler Angkatan Udara Australia senilai Rp4,46 triliun
Australian DoDAIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi Penjualan Militer Asing (FMS) untuk pelatihan jet tempur F/A-18F Super Hornet dan pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler Australia.
Estimasi total biaya dari kontrak pengadaan ini mencapai 250 juta USD atau setara Rp4,46 triliun.
Sebelumnya, Pemerintah Australia mengajukan permohonan pengadaan item peralatan pertahanan non-utama (non-Major Defense Equipment/MDE).
Paket tersebut mencakup pelatihan awak pesawat (aircrew) dan pemeliharaan (maintenance) untuk kategori rahasia (classified) maupun tidak rahasia (unclassified).
Kemudian peralatan pelindung personel, layanan dukungan teknis dan logistik dari Pemerintah AS serta kontraktor, buku manual teknis/non-teknis, publikasi, dan dokumentasi pelatihan, serta elemen pendukung logistik dan program terkait lainnya.
Kelanjutan Amandemen Kontrak
Pengajuan ini merupakan kelanjutan sekaligus amandemen akumulatif dari program FMS yang telah berjalan sebelumnya secara bertahap sejak beberapa tahun lalu.
FMS awal untuk Australia ernilai 18 juta USD (Rp321,4 miliar). Kemudian pada Amandemen 2015 ditambahkan 39 juta USD (Rp696,5 militar), sehingga totalnya menjadi 67 juta USD (Rp1,19 triliun).
Selanjutnya pada Amandemen 2018 ditambahkan lagi 72 juta USD (Rp1,28 triliun), meningkatkan total nilai kasus menjadi 142 juta USD (Rp2,53 triliun).
Penambahan nilai pada tahun 2018 tersebut sebenarnya telah melampaui ambang batas kewajiban notifikasi kepada Kongres AS.
Namun, terjadi kesalahan teknis administratif (technical error) di pihak AS sehingga pelaporan tertunda dan baru dirilis secara resmi saat ini, setelah pihak Australia mengajukan amandemen terbarunya.
Notifikasi yang dirilis kali ini merupakan penggabungan seluruh item non-MDE tersebut hingga mencapai angka final 250 juta USD (Rp4,46 triliun).
Untuk Stabilitas Kawasan Pasifik Barat
Pemerintah AS menyatakan, usulan FMS ini sangat sejalan dengan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat.
Australia dinilai sebagai salah satu sekutu paling krusial bagi Washington di kawasan Pasifik Barat.
Kekuatan politik dan ekonomi Australia, dikombinasikan dengan lokasi strategisnya, memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam memastikan perdamaian serta stabilitas ekonomi di wilayah tersebut.
Oleh sebab itu, membantu sekutu membangun dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap siaga merupakan kepentingan nasional utama bagi AS.
Melalui program pelatihan yang komprehensif ini, kapabilitas Angkatan Udara Australia (RAAF) dalam menghadapi ancaman saat ini dan masa depan akan semakin meningkat, sekaligus memperkuat interoperabilitas (kemampuan operasi bersama) dengan militer AS dan sekutunya.
Pihak Pentagon optimis Angkatan Bersenjata Australia tidak akan menemui kesulitan dalam mengintegrasikan program pelatihan ini ke dalam struktur militer mereka.
Di akhir keterangannya, Departemen Luar Negeri AS memastikan bahwa penjualan peralatan serta paket dukungan pelatihan militer ini tidak akan mengubah perimbangan kekuatan militer dasar yang ada di kawasan Pasifik Barat. (RNS)
