Pengebom Tu-22M3 Rusia jatuh di Siberia, keempat kru melontarkan diri dan selamat

Pembom strategis Tu-22M3 Backfire-C RusiaWikimedia/Aktug Ates
Pembom strategis Tu-22M3 Backfire-C Rusia,

AIRSPACE REVIEW – Sebuah pesawat pengebom supersonik jarak jauh Tu-22M3 milik Angkatan Dirgantara Rusia (VKS) jatuh di Wilayah Irkutsk, Siberia saat melaksanakan penerbangan latihan pada hari Senin (15/6).

Menurut keterangan dari Kementerian Pertahanan Rusia, keempat kru pesawat berhasil melontarkan diri (eject) dan dinyatakan selamat.

Untuk diketahui, pesawat diawaki oleh empat kru, terdiri dari pilot, kopilot, navigator/operator bom, dan operator sistem pertahanan/elektronik (WSO/RSO). Semua kru duduk di kursi lontar.

Tantangan Berat Penerbangan Strategis Moskow

Insiden jatuhnya Tu-22M3 kembali menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh penerbangan strategis Moskow di tengah ketegangan militer yang terus berlanjut.

Pesawat tersebut sedang melaksanakan misi pelatihan rutin ketika tiba-tiba kehilangan ketinggian dan jatuh di area yang jarang penduduknya di dekat wilayah Kamenka.

Video yang beredar di media sosial dari warga setempat memperlihatkan detik-detik pesawat menukik jatuh, yang kemudian disusul oleh kepulan asap hitam besar setelah ledakan terjadi.

Tim darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan kepada kru serta memulai investigasi.

Meskipun otoritas Rusia belum merilis kesimpulan resmi, laporan awal mengindikasikan adanya kemungkinan kegagalan teknis.

Insiden ini memicu kembali kekhawatiran atas kondisi operasional pembom jarak jauh Rusia.

Peran Strategis Tu-22M3

Ditandai NATO dengan nama Backfire-C, Tu-22M3 merupakan salah satu aset paling krusial dalam penerbangan jarak jauh Rusia.

Pesawat dirancang untuk menyerang kelompok kapal induk, target strategis, dan instalasi militer musuh.

Tu-22M3 mampu terbang dengan kecepatan melebihi Mach 1,8 dan membawa berbagai senjata berat, termasuk rudal jelajah jarak jauh.

Dalam beberapa tahun terakhir, Moskow telah berinvestasi dalam modernisasi armada ini melalui program Tu-22M3M.

Pesawat yang diperbarui dilengkapi dengan sistem navigasi baru, avionik digital, perang elektronik, serta kemampuan meluncurkan rudal canggih seperti Kh-32 dan rudal hipersonik Kh-47M2 Kinzhal.

Sejak dimulainya perang di Ukraina, Tu-22M3 telah digunakan secara reguler untuk menyerang infrastruktur militer, pusat logistik, dan fasilitas energi.

Sebelumnya, pesawat jenis ini juga dikerahkan dalam operasi militer Rusia di Suriah.

Tekanan Armada Akibat Perang dan Sanksi

Kecelakaan terbaru ini terjadi pada momen yang sangat sensitif bagi penerbangan strategis Rusia.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangan drone jarak jauh Ukraina telah menghantam beberapa pangkalan udara Rusia dan merusak sejumlah pesawat pengebom strategis yang sudah tidak diproduksi lagi seperti Tu-22M3 dan Tu-95 selama berpuluh-puluh tahun.

Pengamat menilai, selain tekanan dari perang, pemeliharaan pesawat-pesawat tua ini kian rumit. Banyak badan pesawat (airframe) yang telah melampaui usia operasional 30 hingga 40 tahun.

Sanksi internasional yang dijatuhkan pascainvasi ke Ukraina juga mempersulit akses industri Rusia terhadap komponen elektronik dan teknologi canggih, yang memperparah tantangan logistik untuk menjaga kesiapan tempur armada.

Pada Agustus 2024 lalu, sebuah Tu-22M3 jatuh di wilayah Siberia yang sama akibat kegagalan teknis.

Kemudian pada pada April 2025, kecelakaan lain dari model serupa merenggut nyawa seorang kru. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *