Korps Marinir AS simulasikan perebutan pulau-pulau terpencil di Filipina
USMC AIRSPACE REVIEW – Dalam rangkaian latihan militer bersama “Balikatan 2026” di Filipina, salah satu resimen Korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps/USMC) unjuk gigi dengan menyebarkan personelnya di 17 lokasi berbeda di seluruh wilayah kepulauan tersebut.
Latihan yang berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei 2026 tersebut menjadi medan uji coba penting bagi Resimen Pesisir Marinir ke-3 (3rd Marine Littoral Regiment/3rd MLR).
Resimen yang berbasis di Hawaii ini merupakan unit lincah berkekuatan lebih dari 2.000 personel.
Dibentuk pada Maret 2022, unit ini dirancang khusus untuk beroperasi di garis depan pertempuran pesisir.
Letnan Satu Duncan Stoner, direktur strategi komunikasi unit tersebut, menjelaskan bahwa 3rd MLR sangat berbeda dari resimen infanteri tradisional berkat fokus operasi dan persenjataan modern yang mereka miliki.
Guna mendukung operasi yang tersebar, resimen ini membawahi tiga elemen utama, yaitu Tim Tempur Littoral ke-3 yang dipersenjatai sistem peluncur rudal antikapal NMESIS (Navy-Marine Expeditionary Ship Interdiction System) serta drone serang, Batalyon Anti-Serangan Udara Littoral ke-3 yang mengelola pertahanan udara dan sistem anti-drone, serta Batalion Logistik Littoral ke-3.
Salah satu taktik utama yang dilatih dalam Balikatan tahun ini adalah operasi pengamanan wilayah maritim yang penting.
Korps Marinir AS membantu menyimulasikan perebutan pulau-pulau terpencil milik Filipina di Selat Luzon, kawasan strategis yang berdekatan dengan Taiwan.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya menempatkan sistem NMESIS di Kepulauan Batanes, tahun ini jangkauan operasi diperluas secara drastis ke tiga pulau terpisah.
Pasukan beserta peralatan tempur tersebut dikirim menggunakan pesawat C-130J milik Angkatan Udara AS dan kapal pendarat LCU-2000 milik Angkatan Darat AS.
Di Basco, Kepulauan Batanes, satu bagian unit NMESIS yang terdiri dari peluncur rudal otonom, kendaraan komando, dan kendaraan pemimpin dikerahkan selama 72 jam.
Mereka melakukan simulasi misi penembakan (fire missions) untuk menghalau kapal-kapal perang musuh yang mencoba melewati Selat Luzon. Meskipun demikian, dalam latihan di Filipina ini, sistem NMESIS baru sebatas melakukan simulasi dan belum menembakkan rudal sungguhan.
Selain ancaman dari laut, latihan ini juga menguji sistem pertahanan udara MADIS (Marine Air Defense Integrated System).
Sistem yang menggunakan kendaraan taktis JLTV ini dilengkapi dengan berbagai perangkat pelumpuh drone (counter-drone), baik secara elektronik (soft-kill) maupun fisik (hard-kill).
Dalam demonstrasi pertahanan udara terintegrasi di Zambales, kru MADIS mempraktikkan cara melacak dan melumpuhkan berbagai jenis drone quad-copter serta drone bersayap tetap (fixed-wing).
Latihan ini fokus pada penyempurnaan taktik, teknik, dan prosedur pelacakan target di lingkungan yang baru bagi para prajurit.
Saat ini terdapat dua Resimen Littoral Marinir (MLR) AS di kawasan Asia-Pasifik, yaitu 3rd MLR yang berbasis di Hawaii dan 12th MLR yang ditempatkan di Okinawa, Jepang.
Pihak Marinir AS menyatakan bahwa pembentukan dan latihan intensif unit-unit ini merupakan bukti nyata dari modernisasi militer demi memastikan kesiapan multi-domain bersama negara-negara sekutu di kawasan regional. (PN)

