Bantu China bedah rahasia F-35, mantan pilot Amerika Serikat terancam hukuman berat
USAF WASHINGTON D.C. – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkap rincian serius terkait kasus hukum yang menjerat Gerald Eddie Brown Jr. (65), seorang mantan pilot Angkatan Udara AS (USAF).
Brown dituduh telah memberikan pelatihan militer tidak sah serta memaparkan informasi sensitif mengenai jet tempur siluman F-35 Lightning II kepada militer China.
Berdasarkan dokumen pengadilan federal yang baru dirilis, Brown diduga mempresentasikan briefing mendalam mengenai struktur operasional USAF, sejarah perang elektronik, hingga detail teknis pesawat F-35 dalam sebuah konferensi militer yang digelar di Beijing pada tahun 2024.
Meskipun Brown bukan pilot aktif F-35 selama masa dinasnya, ia memiliki rekam jejak panjang menerbangkan pesawat tempur utama seperti F-4 Phantom II, F-15 Eagle, dan F-16 Fighting Falcon.
Setelah pensiun, ia bekerja sebagai instruktur kontraktor untuk simulator militer yang digunakan untuk melatih penerbang AS.
Posisi ini memberinya akses strategis terhadap prosedur taktis dan konsep operasional tingkat tinggi yang seharusnya sangat dirahasiakan.
Brown diduga menjalin konspirasi sejak 2023 untuk memberikan pelatihan tempur udara tingkat lanjut kepada pilot-pilot Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF).
Aktivitas tersebut dilakukan tanpa izin resmi dari pemerintah AS, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum ekspor teknologi militer dan layanan pertahanan.
Penyelidik menyebutkan Brown berulang kali bertemu dengan agen intelijen China. Bahkan, perangkat komputer miliknya diduga telah disusupi perangkat lunak khusus oleh agen asing untuk menyalin data sensitif di dalamnya.
Seorang saksi mengungkapkan bahwa Brown menyadari bahaya dari kegiatannya, bahkan sempat menyatakan kekhawatiran bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi ke Amerika Serikat setelah tugasnya di China selesai.
Kasus ini menimbulkan kekhawatiran besar di Pentagon, terutama karena China sedang gencar mengembangkan jet tempur siluman mereka sendiri, seperti J-20 dan J-35.
Pengetahuan yang dibagikan Brown dianggap dapat membantu China memahami keunggulan utama F-35 dalam “perang berbasis jaringan” (network-centric warfare) dan mencari celah untuk menetralisir teknologi tersebut di wilayah Indo-Pasifik.
Gerald Eddie Brown Jr. ditangkap di Indiana pada Februari 2026. Atas tindakannya yang dianggap membahayakan keamanan nasional dengan membantu kekuatan asing membedah teknologi militer tercanggih Amerika, ia kini menghadapi ancaman hukuman penjara yang sangat berat. (PN)

