Menhan India beri tenggat 5-7 tahun lagi untuk membuat mesin pesawat secara mandiri: 20 tahun telah kita lewati
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Menteri Pertahanan India Rajnath Singh memberi tenggat 5-7 tahun lagi bagi industri pertahanan dalam negeri India untuk membuat mesin pesawat secara mandiri.
Hal itu dikatakan Singh saat mengunjungi Lembaga Penelitian Turbin Gas (GTRE) di Bengaluru pada 16 Februari. GTRE merupakan bagian dari Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (DRDO) pemerintah.
Di fasilitas tersebut Singh menyaksikan uji coba mesin jet afterburner penuh, sebuah langkah penting yang akan meningkatkan daya dorong mesin aero Kaveri.
“Kita harus berasumsi bahwa 20 tahun telah berlalu dan sekarang kita hanya memiliki waktu lima hingga tujuh tahun lagi,” ujar Menhan India menantang para pelaku industri dalam negeri dengan seruan ambisius untuk bertindak.
Kaveri adalah mesin aero paling canggih yang dikembangkan di dalam negeri untuk Angkatan Udara India (IAF).
Mesin Turunan Kaveri (KDE), varian tanpa afterburner dalam kisaran 48-52 kN, telah menyelesaikan pengujian darat dan ketinggian yang substansial. Mesin ini disiapkan untuk mendukung program pesawat tempur tak berawak Ghatak yang dikembangkan DRDO.
India masih terus berupaya mengembangkan Kaveri menjadi varian afterburner, yang sering disebut Kaveri 2.0, dengan daya dorng di kisaran 80–85 kN.
Aktivitas pengujian baru-baru ini seputar modul afterburner yang diperbarui merupakan tonggak penting menuju konfigurasi tersebut.
“Kita tidak bisa membatasi diri hanya pada mesin generasi kelima. Kita harus memulai pengembangan generasi keenam,” lanjut Singh, mendorong semangat para ilmuwan dan pejabat di acara tersebut.
Mesin afterburner menyuntikkan bahan bakar langsung ke aliran gas buang turbin, membakarnya untuk menciptakan peningkatan daya dorong sementara yang signifikan.
Hal ini diperlukan untuk memberikan daya dorong yang lebih besar untuk skenario penerbangan berdurasi pendek dan berdaya dorong tinggi, termasuk lepas landas dan manuver tempur mendesak.
Seperti diketahui, India saat ini masih bergantung pada Barat untuk memasok mesin bagi pesawat tempur buatan dalam negerinya.
DRDO mengimpor mesin General Electric F404 untuk pesawat Tejas Mk1 dan 1A, tetapi pengadaan mesin ini telah menyebabkan penundaan serius dalam pengembangan 1A karena kerentanan rantai pasokan global.
Pada Oktober 2025, perusahaan kedirgantaraan Prancis Safran membuka bengkel perawatan, perbaikan, dan perombakan untuk mesin M88 yang digunakan oleh jet tempur Rafale India.
India saat ini sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima buatan sendiri yang dikenal sebagai Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA).
Pesawat tersebut rencananya akan menggunakan mesin yang dikembangkan dari hak kekayaan intelektual untuk mesin 120kN, yang akan dibangun berdasarkan teknologi mesin M88 dari Safran Prancis. (RNS)
