F-35B Inggris Tuntaskan Uji Pelepasan Perdana Rudal Meteor dari Ruang Senjata Internal

F-35B Inggris lepaskan rudal udara ke duara MeteorMBDA
F-35B Inggris lepaskan rudal udara ke duara Meteor.

AIRSPACE REVIEW – Jet tempur siluman F-35B Inggris berhasil mengukir pencapaian penting dengan menguji pelepasan (drop test) perdana rudal udara ke udara jarak jauh Meteor dari ruang senjata internalnya (internal weapons bay). Meski pengujian ini menjadi sinyal positif dalam penguatan daya gempur armada udara Inggris, langkah awal ini sekaligus menyoroti lambatnya proses integrasi persenjataan domestik pada platform jet tempur generasi kelima tersebut.

Pengujian teknis ini dilaksanakan di Pangkalan Udara Angkatan Laut AS Patuxent River, Maryland, Amerika Serikat pada 7 Oktober lalu, namun rincian pengujian baru dipublikasikan secara resmi oleh produsen rudal MBDA dan F-35 Joint Program Office pada 5 November. Misi penerbangan uji tersebut dikendalikan langsung oleh pilot penguji Royal Navy dari Air and Space Warfare Centre yang tergabung dalam tim uji terintegrasi gabungan Inggris-AS (joint UK-US F-35 Integrated Test Force).

Dalam skenario uji pelepasan tersebut, rudal Meteor bertipe amunisi bersumbu inersia (inert warhead) dijatuhkan dari kompartemen internal tanpa mengaktifkan roket pendorong maupun menggerakkan sirip kendali kontrolnya. Langkah ini bertujuan untuk memverifikasi keselamatan pemisahan proyektil (safe separation) dari badan pesawat serta mengumpulkan data aerodinamika presisi untuk menyempurnakan model simulasi sebelum melangkah ke tahap uji penembakan langsung (live firing) di berbagai rentang kondisi penerbangan.

Varian F-35B dirancang untuk mampu mengangkut satu unit rudal Meteor di masing-masing dari dua kompartemen senjata internalnya, sehingga total dua rudal dapat dibawa tanpa mengorbankan profil siluman pesawat.

Sistem Pendorong Ramjet

Pemilihan Meteor diakui bakal mendongkrak kemampuan pertempuran udara jarak jauh di luar jangkauan visual (BVR) secara signifikan dibandingkan dengan persenjataan AIM-120 AMRAAM buatan Amerika Serikat yang digunakan saat ini.

Berbeda dari rudal konvensional bertenaga roket seperti AMRAAM, Meteor mengusung sistem pendorong ramjet (throttleable ramjet) yang mampu menjaga dorongan daya dorong secara berkelanjutan sepanjang fase penerbangan. Teknologi ini memberikan energi kinetik dan daya jelajah tinggi hingga menciptakan no-escape zone yang amat luas bagi target lawan. Dipadukan dengan pemandu radar aktif dan jalur data dua arah (two-way datalink), rudal Meteor menjadi salah satu senjata paling mematikan untuk menjangkau target bernilai tinggi.

Program integrasi Meteor pada F-35 sendiri merupakan proyek kerja sama antara Inggris dan Italia. Inggris memimpin integrasi pada varian lepas landas pendek dan mendarat vertikal (STOVL) F-35B, sementara Italia mendanai integrasi pada varian konvensional F-35A. Pengujian di Maryland ini merupakan kelanjutan dari uji terbang penyerapan data awal yang pertama kali digelar pada akhir Februari 2025.

Kendati sukses menggelar uji drop test, proses integrasi persenjataan khas Inggris ke jet tempur F-35 dinilai berjalan sangat lambat. Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) sebenarnya telah mengoperasikan Meteor pada armada Eurofighter Typhoon selama hampir delapan tahun, tetapi integrasinya pada F-35B masih memerlukan waktu panjang. Lambatnya integrasi persenjataan ini juga berdampak pada proyek rudal jelajah presisi SPEAR 3.

Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi bahwa pengoperasian penuh SPEAR 3 pada F-35B terpaksa dimundurkan hingga awal dekade 2030-an akibat ketergantungan pada jadwal prioritas pengujian dari Amerika Serikat. Sebagai langkah antisipasi krisis kemampuan gempur jarak jauh, Inggris akhirnya memutuskan untuk membeli rudal GBU-53/B StormBreaker (Small Diameter Bomb II) buatan Amerika Serikat sebagai solusi sementara hingga SPEAR 3 siap digunakan secara operasional. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *