Helikopter Viper dan Venom Marinir AS Akan Menerima Teknologi Senjata Digital
Naval Air SystemsAIRSPACE REVIEW – Helikopter serang AH-1Z Viper dan helikopter angkut UH-1Y Venom akan menerima teknologi senjata digital guna meningkatkan daya tempur serta kapasitas listrik armada mereka melalui program SPINE (Structural and Power Improvements for NextGen Effects). Langkah ini dilakukan oleh Kantor Program H-1 (PMA-276) Komando Sistem Udara Angkatan Laut AS bersama Bell Textron dengan mengolah data hasil uji terbang dari dua helikopter uji di Pangkalan Udara Angkatan Laut Patuxent River, Maryland.
Paket modernisasi ini akan mulai berjalan pada tahun fiskal 2027 di Pusat Perakitan Bell di Amarillo, Texas. Melalui program SPINE, struktur rangka pesawat (airframe) akan diperkuat agar mampu membawa beban yang lebih berat, sekaligus menambah daya listrik untuk mendukung pengintegrasian sistem persenjataan canggih seperti rudal AIM-9X melalui digital weapons bus.
Komponen digital ini memungkinkan komputer misi helikopter bertukar data secara langsung dengan amunisi pintar sebelum diluncurkan. Langkah modernisasi ini menjadi krusial mengingat lini produksi kedua helikopter tersebut telah ditutup, yaitu UH-1Y pada 2020 dan AH-1Z pada 2022. Sementara USMC masih mengoperasikan sekitar 189 Viper dan 160 Venom yang berbagi komponen yang sama hingga 85%.
Untuk mendukung pelaksanaan proyek tersebut, Angkatan Laut AS (US Navy) telah mengamankan sejumlah kontrak penting dengan Bell, termasuk kontrak awal sebesar 33,6 juta USD pada Juli 2026 yang mencakup opsi pengadaan hingga 49 helikopter dengan target pengiriman perdana pada 2028, serta eksekusi opsi kontrak senilai 114,7 juta USD pada Oktober 2026.
Standar Basis Teknologi Tunggal
Di saat yang sama, USMC juga telah mulai menguji coba skenario taktis masa depan, seperti penggunaan UH-1Y sebagai pusat kendali udara (airborne control node) untuk mengoperasikan drone FPV Neros Archer di udara. Kolaborasi erat antara pemerintah dan pihak manufaktur ini diharapkan dapat mempercepat penyampaian peningkatan kemampuan tempur ke seluruh skuadron operasional secara tepat waktu.
Proses persiapan di pabrik Amarillo tidak hanya fokus pada perakitan fisik, tetapi juga mencakup penataan logistik yang komprehensif mulai dari pengadaan suku cadang, penyediaan peralatan khusus, hingga alur distribusi helikopter dari dan menuju pangkalan armada. Penyesuaian jadwal induksi pesawat dilakukan secara teliti agar proses modernisasi berjalan seiring dengan program pemeliharaan rutin lainnya tanpa mengganggu kesiapan tempur skuadron Marinir yang sedang bertugas.
Selain menjaga kesiapan armada, kolaborasi antara Bell selaku produsen asli (OEM) dan PMA-276 bertujuan untuk menetapkan standar basis teknis tunggal yang seragam bagi seluruh helikopter yang diarsiteki ulang.
Langkah penyatuan standar ini, menurut USMC, sangat vital untuk memastikan bahwa seluruh sistem persenjataan baru, arsitektur perangkat lunak, dan modifikasi struktur dapat terus didukung, diperbarui, dan dirawat dengan mudah sepanjang sisa masa operasional helikopter H-1 di Korps Marinir. (RW)
