Uji Pertempuran BVR Berhasil, Saab Integrasikan AI Mandiri pada jet Gripen E

Gipen E dengan sistem kecerdasan buatanSaab
Gipen E dengan sistem kecerdasan buatan.

AIRSPACE REVIEW – Perusahaan dirgantara dan pertahanan asal Swedia, Saab, mengumumkan pencapaian penting dalam pengembangan teknologi militer otonom setelah sukses menguji agen kecerdasan buatan (AI) buatan internal untuk mengendalikan jet tempur Gripen E secara mandiri dalam skenario pertempuran udara di luar jangkauan visual (BVR).

Keberhasilan ini menandai langkah maju yang signifikan karena, berbeda dari uji coba sebelumnya yang masih menggunakan teknologi dari perusahaan mitra seperti agen Centaur buatan Helsing pada tahun 2025 lalu, kali ini Saab berhasil merancang sendiri agen AI, lingkungan pelatihan, hingga perangkat evaluasinya secara internal demi memperkuat kemandirian teknologi pertahanan Swedia.

Melalui inisiatif AI Fighter Pilot Academy di bawah divisi Advanced Programs, sistem AI tersebut telah digembleng melalui jutaan jam penerbangan virtual di dalam simulator untuk melatih kemampuannya dalam menginterpretasikan informasi, menilai ancaman, serta memilih respons taktis yang cepat dan akurat di bawah tekanan ekstrem.

Pemilihan jet tempur Gripen E sebagai platform uji juga bukan tanpa alasan, sebab pesawat ini dirancang dengan arsitektur terbuka yang digerakkan oleh perangkat lunak (software-driven), sehingga memungkinkan pengintegrasian fitur otonom dan pembaruan sistem yang jauh lebih cepat tanpa harus bergantung pada platform khusus yang sepenuhnya eksperimental.

Konsep MUM-T

Inovasi ini ke depannya akan sangat berkaitan erat dengan konsep pertempuran udara kolaboratif atau Manned-Unmanned Teaming (MUM-T), di mana jet tempur berawak dapat beroperasi secara berdampingan dengan pesawat tempur nirawak, sejalan dengan konsep pesawat otonom A3-001 yang turut diperkenalkan oleh Saab.

Meskipun menawarkan keunggulan taktis yang masif dalam memproses data rumit dan meringankan beban kerja pilot manusia, Saab tetap menegaskan bahwa aspek keamanan, prediktabilitas, serta kontrol yang ketat terhadap keputusan algoritmik akan terus menjadi prioritas utama dalam setiap tahap pengembangan teknologi otonom masa depan ini.

Penguasaan teknologi kecerdasan buatan secara mandiri ini turut memberikan nilai strategis yang sangat krusial bagi Swedia dalam menjaga kedaulatan industri pertahanannya. Dengan memegang kendali penuh atas simulasi, algoritma pelatihan, hingga ekosistem otonom tanpa ketergantungan pada pihak luar, Saab menciptakan basis teknologi kokoh yang siap diaplikasikan ke berbagai program pertahanan udara masa depan. Termasuk dalam hal ini adalh proyek demonstrator senilai 2,9 miliar krona Swedia (sekitar Rp4,3 triliun) yang ditandatangani bersama Administrasi Material Pertahanan Swedia (FMV).

Integrasi AI pada Gripen E pada akhirnya bukan sekadar mengotomatisasi fungsi penerbangan standar, melainkan mentransformasi jet tempur ini menjadi platform tempur generasi baru yang adaptif. Di masa depan, pilot manusia tidak lagi dibebani oleh pemrosesan data taktis yang kompleks di ruang kokpit, melainkan bertindak sebagai komandan misi yang didampingi oleh agen cerdas otonom untuk mengeksekusi skenario pertempuran udara yang kian rumit dan dinamis. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *