Prancis Akan Bangun Kapal Induk Nuklir Kedua dan Terbesar di Eropa, France Libre Ditargetkan Melaut 2038

Kapal induk nuklir Prancis France LibreVia X
Kapal induk nuklir Prancis France Libre.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Prancis kini tengah mempertimbangkan opsi strategis untuk membangun kapal induk bertenaga nuklir kedua dari kelas France Libre guna mencegah terjadinya kekosongan operasional penerbangan angkatan laut saat kapal utama menjalani masa perawatan berkala yang panjang. Rekomendasi tersebut mengemuka dalam laporan parlemen Prancis pada Oktober 2026, yang mendorong pemerintah untuk segera memesan kapal induk kedua pada tahun 2029 demi menjaga kesinambungan dan kehadiran militer strategis Prancis di lautan secara permanen.

Saat ini, Prancis praktis hanya mengandalkan satu kapal induk bertenaga nuklir, yaitu Charles de Gaulle. Meskipun menjadi instrumen utama dalam proyeksi kekuatan militer Paris, kapal tersebut membutuhkan perawatan menyeluruh secara berkala yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga membatasi kemampuan negara untuk merespons krisis internasional secara cepat.

Dengan hadirnya kapal induk kedua nanti, Angkatan Laut Prancis dapat menerapkan skema operasi bergantian di mana satu kapal bertugas sementara yang lain menjalani pemeliharaan.

Kapal Induk Terbesar di Eropa

Kapal induk masa depan France Libre diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun 2038 dan digadang-gadang akan menjadi kapal perang terbesar yang pernah dibangun di Eropa dengan panjang sekitar 310 meter serta bobot hampir 80.000 ton. Kapal ini akan dilengkapi dengan dua reaktor nuklir K22 dan sistem ketapel elektromagnetik EMALS yang memungkinkan pengoperasian pesawat lebih berat guna memperluas kemampuan sayap udara.

Berdasarkan perkiraan laporan parlemen, pembangunan unit kedua ini dapat menelan biaya sekitar 30% lebih murah daripada kapal pertama berkat standardisasi proses dan penggunaan kembali desain teknik di galangan kapal Chantiers de l’Atlantique di Saint-Nazaire. Selain fisik kapal, rencana ini juga mencakup penguatan alutsista pendukung berupa pengadaan 12 jet tempur Dassault Rafale M dan dua pesawat peringatan dini udara E-2D Advanced Hawkeye.

Opsi Alternatif Sempat Dilirik

Opsi alternatif sebenarnya sempat dilirik, seperti memperpanjang masa operasional Charles de Gaulle hingga setelah tahun 2038. Kendati demikian, alternatif tersebut dinilai kurang efisien karena intervensi besar termasuk perbaikan reaktor nuklir dapat memakan biaya sekitar 2 miliar euro (sekitar Rp34,8 triliun) namun hanya memberikan tambahan masa pakai yang singkat, sehingga pembangunan kapal kedua jauh lebih layak dipertimbangkan.

Di samping itu, diskusi mengenai proyek ini juga menyangkut isu kemandirian teknologi karena Paris harus mencermati penggunaan ketapel buatan Amerika Serikat pada France Libre, sembari mengevaluasi peluang pengembangan komponen fundamental secara mandiri di dalam negeri. Untuk saat ini, pembangunan kapal induk kedua masih berupa rekomendasi parlemen yang menunggu keputusan akhir pemerintah melalui kajian teknis dan anggaran lanjutan guna memastikan kesinambungan operasi angkatan laut Prancis dalam beberapa dekade mendatang.

Lebih jauh lagi, realisasi proyek ambisius ini diyakini akan menjadi momentum krusial bagi doktrin pertahanan mandiri Prancis di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompetitif dan tidak terduga. Kehadiran dua kapal induk bertenaga nuklir tidak hanya akan mengembalikan kapasitas proyeksi kekuatan penuh Paris yang sempat merosot sejak era penonaktifan kapal Foch dan Clemenceau, tetapi juga memperkokoh posisi strategis Prancis sebagai kekuatan maritim utama Eropa yang mampu mengamankan jalur perdagangan vital dan merespons berbagai skenario krisis internasional secara otonom tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sekutu utamanya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *