Geger Lempengan Logam 9 Meter di Kebun Sawit Kotim, BRIN: Serpihan Roket China ZhuQue-2E

Serpihan Roket China ZhuQue-2E ditemukan di KotimBRIN
Serpihan Roket China ZhuQue-2E ditemukan di Kotim.

AIRSPACE REVIEW – Aktivitas para pekerja perkebunan kelapa sawit PT Agro Bukit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendadak gempar. Kejadian ini bermula ketika ditemukannya serpihan benda asing berukuran masif yang jatuh di area lahan perkebunan.

Penemuan tersebut menjawab teka-teki warga setempat yang sebelumnya sempat dihebohkan oleh suara dentuman keras serta penampakan benda pijar melintas di langit pada petang hari.

Kapolres Kotawaringin Timur, AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, membenarkan penemuan objek raksasa tersebut dan membeberkan kondisi fisik awal di lokasi kejadian.

Ia menggambarkan objek tersebut berupa lempengan aluminium yang cukup besar dengan panjang berukuran hingga sembilan meter.

Bentuknya yang tidak beraturan serta adanya bekas terbakar hangus yang terlihat jelas pada permukaannya memperkuat dugaan bahwa objek tersebut mengalami gesekan panas ekstrem saat menembus atmosfer bumi.

Berdasarkan analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), puing-puing misterius tersebut terkonfirmasi sebagai sampah antariksa yang berasal dari roket ZhuQue-2E milik China.

Kepastian ini makin diperkuat oleh temuan kode serial penanda 2ZQE31-20-15 yang tertera pada bagian badan logam tersebut.

Meski terlihat menyeramkan dengan bekas pembakaran hebat, masyarakat diminta untuk tidak khawatir karena hasil pengujian awal memastikan bahwa puing material roket ini tidak menimbulkan risiko radiasi berbahaya maupun tingkat toksisitas yang dapat mengancam kesehatan serta lingkungan perkebunan.

Objek berukuran besar yang mendarat di area PT Agro Bukit ini merupakan bagian tingkatan (stage) dari roket ZhuQue-2E yang diluncurkan oleh Pemerintah China dari fasilitas peluncuran komersial di wilayah barat laut negara tersebut pekan lalu.

Peluncuran tersebut sejatinya mengemban misi untuk membawa dan mengorbitkan 10 satelit ke ruang angkasa.

Saat ini, jajaran kepolisian setempat telah mengamankan lokasi penemuan dan memasang garis polisi guna menjaga sterilitas area sembari berkoordinasi dengan instansi teknis untuk proses evakuasi bangkai roket lebih lanjut.

Penjelasan BRIN

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa identifikasi awal terhadap kepingan benda misterius tersebut dilakukan dengan menelusuri data orbit benda antariksa yang diperkirakan melintas di wilayah Kalimantan pada waktu kejadian.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, warga sebelumnya mendengar suara gemuruh dari langit pada Minggu (18/10) sekitar pukul 17.30 WIB. Keesokan paginya, pekerja perkebunan menemukan kepingan logam besar dengan kondisi terkoyak di kawasan perkebunan sawit.

Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa lintasan orbit bekas roket ZhuQue-2E bergerak dari arah utara menuju selatan melintasi wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026.

Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasan orbit benda tersebut berada di sekitar Sampit, berdekatan dengan waktu terdengarnya suara gemuruh yang dilaporkan warga.

“Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit. Waktu ini sesuai dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari tersebut,” jelas Thomas sebagaimana dirilis BRIN.

Menurut Thomas, kesesuaian waktu kejadian dan lintasan orbit menjadi petunjuk penting dalam mengidentifikasi asal benda yang ditemukan warga.

Hasil penelusuran juga menunjukkan bahwa lintasan tersebut merupakan lintasan terakhir bekas roket sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi dan tidak lagi berada di orbit.

“Data menunjukkan bahwa itu merupakan lintasan orbit terakhir bekas roket tersebut sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi. Kesesuaian antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E,” ungkapnya.

Thomas menjelaskan, ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace.

Roket tersebut menggunakan bahan bakar metana cair dan oksigen cair, yang dikenal sebagai teknologi propulsi liquid oxygen–liquid methane atau methalox. Teknologi ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan industri antariksa untuk meningkatkan efisiensi sistem peluncuran.

ZhuQue-2E memiliki dua tingkat roket dan merupakan versi pengembangan dari keluarga ZhuQue-2. Roket ini dirancang untuk membawa satelit ke orbit rendah Bumi maupun orbit sinkron Matahari.

Berdasarkan informasi peluncuran yang dipublikasikan Xinhua, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan membawa sepuluh satelit.

“Misi peluncuran tersebut dinyatakan berhasil setelah seluruh satelit ditempatkan pada orbit yang telah ditentukan,” jelasnya.

Namun, keberhasilan peluncuran satelit tidak berarti seluruh bagian roket akan terus berada di antariksa.

“Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian roket yang tidak lagi digunakan dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu. Seiring waktu, hambatan atmosfer secara bertahap menurunkan ketinggian orbit hingga bagian tersebut memasuki kembali atmosfer Bumi,” lanjutnya.

Dalam kasus ZhuQue-2E, badan roket yang diduga menjadi sumber serpihan di Sampit tercatat dengan nomor identifikasi NORAD 101070 dan kode internasional 2026-234L. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *