Gempur Timur Tengah, AS Kirim Gugus Tugas Kapal Induk USS Theodore Roosevelt (CVN-71)
US NavyAIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) kembali memperkuat keberadaan militer mereka di Timur Tengah dengan mengerahkan gugus tugas kapal induk USS Theodore Roosevelt (CVN-71).
Kapal induk bertenaga nuklir tersebut telah bergerak meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut San Diego pada hari Minggu, tanpa upacara perpisahan resmi maupun jajaran prajurit di geladak.
Misi ini diperkuat oleh keberadaan kapal serbu amfibi USS Makin Island yang berlayar sehari setelahnya membawa pasukan dari 13th Marine Expeditionary Unit.
Kedatangan dua armada besar ini membawa tambahan sekitar 9.000 hingga 10.000 prajurit baru untuk memperkuat lebih dari 50.000 personel militer Amerika Serikat yang sudah bersiaga di kawasan tersebut.
Seluruh gugus tugas tempur ini dijadwalkan tiba di titik operasi Timur Tengah pada akhir November.
Armada Tempur Lengkap
Di atas geladaknya, USS Theodore Roosevelt mengusung Carrier Air Wing 11 yang terdiri dari barisan jet tempur siluman F-35C Lightning II, jet tempur F/A-18E/F Super Hornet, pesawat perang elektronik EA-18G Growler, pesawat peringatan dini E-2D Hawkeye, helikopter pertahanan maritim MH-60R/S, serta pesawat angkut tilt-rotor CMV-22B Osprey.
Seluruh awak dan personel penerbang telah diminta bersiap untuk menjalani masa pengerahan operasi sedikitnya selama delapan bulan di luar pangkalan induk.
Hingga saat ini belum ada kepastian apakah USS Theodore Roosevelt dengan armada tempur lengkap ini hadir untuk menggantikan USS George Washington (CVN-73) yang sedang bertugas bersama USS George H.W. Bush (CNV-77), atau justru akan bergabung memperkuat kedua armada tersebut secara bersamaan.
Jika skenario terakhir terjadi, Amerika Serikat akan menyiagakan tiga gugus tugas kapal induk sekaligus di sekeliling wilayah Iran untuk pertama kalinya sejak April.
Pengerahan armada tempur baru ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan serta spekulasi mengenai potensi intensifikasi serangan udara pasca-pemilu sela di Amerika Serikat.
Kabar mengenai pergerakan masif kekuatan laut AS ini juga langsung memicu reaksi di pasar energi global, ditandai dengan kenaikan harga minyak mentah jenis Brent sebesar lebih dari empat persen.
Dilema Strategis Pentagon
Komandan Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menegaskan bahwa penugasan USS Theodore Roosevelt kali ini mengaplikasikan berbagai evaluasi operasional dari penyiagaan kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) sebelumnya.
Penugasan ini menjadikan USS Theodore Roosevelt sebagai kapal induk kelima dari 11 kapal induk yang dimiliki Angkatan Laut AS yang dikerahkan untuk mendukung operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Tingginya intensitas rotasi dan penugasan berulang ini makin menyoroti tekanan operasional yang dialami oleh armada kapal induk Angkatan Laut AS.
Sebelumnya, USS Abraham Lincoln baru saja menyelesaikan masa tugas yang sangat panjang hingga melebihi 300 hari sebelum akhirnya diizinkan berlayar pulang menuju San Diego, mendekati rekor penugasan maraton yang sebelumnya dicatatkan oleh USS Gerald R. Ford.
Pengasahan kekuatan secara masif di Timur Tengah ini juga memunculkan dilema strategis tersendiri bagi Pentagon dalam membagi fokus kekuatannya di kawasan Indo-Pasifik.
Konsentrasi hingga tiga gugus tugas kapal induk di sekitar Iran secara bersamaan berisiko mengurangi kehadiran fisik armada Pasifik AS, yang pada saat bersamaan harus menjaga perimbangan kekuatan serta stabilitas di kawasan Asia-Pasifik. (RNS)
