KF-21 Boramae Siap Invasi Pasar Asia Tenggara, Filipina Berpotensi Tinggalkan F-16V
KAIAIRSPACE REVIEW – Korea Aerospace Industries (KAI) bersiap memperluas jangkauan ke pasar internasional setelah unit produksi massal pertama jet tempur KF-21 Boramae resmi diserahkan kepada Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) pada pertengahan September.
Penyerahan unit perdana ini menegaskan posisi Korea Selatan dalam jajaran elite negara yang mampu merancang, mengembangkan, dan memproduksi pesawat tempur canggih secara mandiri.
Pencapaian tersebut kian istimewa karena seluruh proses riset dan uji terbang yang berlangsung selama sembilan tahun berhasil dituntaskan tanpa catatan kecelakaan fatal, sebuah rekor langka dalam industri penerbangan global.
Pakar pertahanan sekaligus CEO Defense Times, Ahn Seung-beom, dikutip Newsis, menilai kehadiran KF-21 Boramae untuk menggantikan jet tua KF-5 akan merombak total struktur kekuatan udara Korea Selatan hingga mampu melejit ke peringkat lima besar dunia.
Negara ASEAN Potensi Utama
Setelah kebutuhan armada dalam negeri terjamin, KAI kini mengalihkan fokus penawaran secara agresif ke pasar Asia Tenggara.
Empat negara utama, yakni Filipina, Malaysia, Thailand, dan Indonesia, dibidik sebagai target pasar prioritas untuk mengamankan dominasi jet tempur generasi baru di kawasan ASEAN.
Dinamika pasar paling menarik saat ini tengah berlangsung di Filipina yang berencana mengait 40 unit pesawat tempur multiperan (Multi-Role Fighter).
Di tengah wacana awal untuk membagi alokasi pesanan antara KF-21 dan F-16V buatan Lockheed Martin dari Amerika Serikat, dorongan publik serta analisis militer di Manila justru mulai bergeser.
Filipina disebut-sebut berpotensi meninggalkan F-16V dan beralih untuk memborong 40 unit KF-21 Boramae secara utuh guna membentuk satu armada terpadu yang lebih efisien.
Keputusan final dari pemerintah Filipina diperkirakan baru akan diambil pada akhir tahun ini atau paruh pertama tahun depan mengingat kompleksnya proses negosiasi.
Pertimbangan tersebut, tulis laporan tersebut, mencakup koordinasi politik dengan Amerika Serikat serta kepastian regulasi izin ekspor komponen.
Pasalnya, mesin KF-21 masih memanfaatkan komponen buatan produsen AS, sehingga persetujuan Washington tetap menjadi faktor kunci.
Di sisi lain, AS sendiri dilaporkan memandang positif KF-21 untuk dijadikan platform jet tempur standar bagi negara-negara sekutu di kawasan Asia Tenggara.
Kelas yang Unggul
Dari segi performa teknis dan kapabilitas tempur, Boramae dinilai berada di kelas yang unggul. Dirancang sejak 2016 dengan mengadopsi elemen aerodinamis siluman berbasis jet tempur F-22 Raptor, pesawat yang dijuluki “Baby Raptor” ini memiliki fitur penampang radar yang lebih rendah dibandingkan F-16V.
Keunggulan teknis ini makin diperkuat oleh kepastian jadwal pengiriman dan efisiensi biaya berkat lini produksi terpusat KAI, yang memungkinkan perakitan badan pesawat selesai lebih cepat sebelum integrasi mesin dilakukan.
Melihat fokus kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi dan UEA yang masih tertuju pada pengadaan sistem pertahanan udara dan antidrone hingga setelah 2028, pasar Asia Tenggara kini menjadi prioritas paling mendesak bagi Korea Selatan.
KAI dipastikan bakal terus melancarkan strategi penjualan yang agresif agar negara-negara ASEAN dapat segera mengamankan armada penerbangan modern. (PN)
