Ambisi Kairo Tembus 78 Rafale: Langkah Mesir Amankan Dominasi Udara di Timur Tengah

Rafale MesirEAF
Jet tempur Rafale Angkatan Udara Mesir.

AIRSPACE REVIEW – Mesir dilaporkan tengah bersiap melancarkan strategi besar untuk memperkuat lini pertahanan udaranya dengan mengajukan permohonan pembelian 24 unit jet tempur Dassault Rafale tambahan dari Prancis.

Menurut harian Prancis, La Tribune, Kairo telah mengirimkan request for proposal (RFP) secara resmi kepada Paris.

Meski demikian, pihak produsen Dassault Aviation hingga saat ini masih memilih untuk menutup suara dan menolak memberikan komentar resmi terkait potensi kesepakatan baru tersebut.

54 Rafale hingga Akhir 2026

Langkah diplomasi pertahanan ini menggarisbawahi ambisi jangka panjang Mesir dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan mengamankan dominasi ruang udara di kawasan Timur Tengah serta Afrika Utara.

Jika akuisisi terbaru ini terealisasi, total kekuatan armada jet tempur Rafale milik Angkatan Udara Mesir akan melonjak drastis hingga menembus angka 78 unit, sebuah kekuatan yang sangat signifikan untuk mengawal lanskap geopolitik kawasan yang kian dinamis.

Ekspansi armada ini melanjutkan komitmen pengadaan alutsista yang telah dirintis Kairo secara konsisten sejak satu dekade terakhir.

Menyusul kesepakatan kontrak pembelian sebelumnya pada tahun 2015 dan 2021, Mesir dijadwalkan sudah mengoperasikan sebanyak 54 unit Rafale secara penuh pada akhir tahun 2026.

Penambahan 24 unit baru ini tidak hanya mempertegas posisi Mesir sebagai salah satu operator terbesar Rafale di luar Prancis, tetapi juga mengindikasikan semakin solidnya kemitraan strategis militer antara Kairo dan Paris.

Gantikan Armada F-16

Langkah percepatan peremajaan alutsista ini didorong oleh kebutuhan mendesak Mesir untuk memodernisasi jajaran tempur utamanya.

Seperti diketahui bahwa Mesir mengoperasikan lebih dari 200 armada F-16 buatan Amerika Serikat yang mulai menua dan perlu penerus.

Selain itu, armada F-16 Kairo yang diperoleh sejak era 1980-an hingga 2010-an diketahui kerap menghadapi berbagai pembatasan teknologi dari Washington, khususnya dalam hal integrasi rudal melacak sasaran jarak jauh (beyond-visual-range).

Info Lainnya: Mesir memilih beli J-10C baru dari China ketimbang meningkatkan F-16-nya, untuk menghindari ketatnya aturan dari AS

Kehadiran Rafale memberikan lompatan doktrin tempur yang signifikan lewat integrasi persenjataan modern Eropa, termasuk rudal MICA serta potensi penguasaan rudal jarak jauh Meteor.

Di sisi lain, ambisi Kairo untuk memborong armada tempur Prancis ini tidak lepas dari strategi diversifikasi alutsista agar tidak tergantung pada satu negara pemasok saja.

Langkah ini menempatkan Mesir dalam posisi yang lebih independen dalam menentukan kebijakan pertahanan nasionalnya.

Antrean Cukup Panjang

Dengan merangkul teknologi dirgantara Prancis yang memiliki kemampuan superior, Mesir berhasil membangun penangkal (deterrent) yang efektif di tengah kompleksitas konflik regional di sekitarnya.

Meski demikian, rencana untuk melengkapi armada Rafale hingga 78 unit ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan teknis dan keuangan.

Skema penjaminan kredit serta pinjaman dari Kementerian Keuangan Prancis diprediksi akan kembali menjadi penentu utama persetujuan kontrak, mengingat ketatnya evaluasi terhadap beban utang luar negeri Mesir.

Selain itu, padatnya antrean produksi di fasilitas Dassault Aviation di Mérignac, yang tengah memenuhi pesanan berbagai negara konsumen lain, membuat pengiriman 24 unit baru ini kemungkinan besar baru akan terwujud secara bertahap menuju akhir dekade. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *