Ancaman kian nyata, USAF akui kewalahan halau drone misterius di pangkalan militer strategis

Armada pengebom B-52 Stratofortress di Barksdale AFBUSAF

AIRSPACE REVIEW – Kehadiran pesawat tanpa awak (drone) tidak dikenal di atas instalasi militer Amerika Serikat kini menjadi sorotan tajam. Pentagon mulai blak-blakan mengenai kerentanan sistem pertahanan mereka setelah petinggi Angkatan Udara AS (USAF) secara terbuka mengakui ketidakmampuan pangkalan militer strategisnya dalam membendung infiltrasi drone misterius tersebut.

Kekhawatiran ini mencuat ke publik setelah serangkaian insiden spionase udara yang terjadi berulang kali di Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di Louisiana.

Pangkalan tersebut bukan instalasi sembarangan, melainkan jantung dari struktur militer AS yang menjadi markas besar Angkatan Udara Kedelapan dan memainkan peran sentral dalam sistem pencegahan nuklir negara tersebut.

Dalam sebuah dengar pendapat di Kongres AS, Letnan Jenderal David Tabor, Wakil Kepala Staf USAF untuk Rencana dan Program, mengakui bahwa teknologi dan sumber daya pertahanan antidrone yang dimiliki militer AS saat ini masih sangat tidak memadai.

Perkembangan ancaman teknologi pesawat tanpa awak dinilai bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan respons militer.

Pangkalan Udara Barksdale merupakan rumah bagi armada pengebom strategis B-52H Stratofortress. Di masa depan, instalasi ini juga diproyeksikan menjadi pusat operasional pembom siluman generasi terbaru, B-21 Raider.

Fakta bahwa drone tak dikenal dapat dengan mudah menyusup dan beroperasi di wilayah udara sensitif tersebut memicu alarm bahaya tinggi.

Pentagon mengkhawatirkan adanya aktivitas pengumpulan intelijen, spionase skala besar, hingga potensi ancaman sabotase aset militer strategis.

Berdasarkan laporan otoritas keamanan, insiden yang terekam di Barksdale tidak sekadar melibatkan drone komersial biasa.

Armada drone tersebut beroperasi dalam formasi kelompok (swarm) dengan pola yang sangat terkoordinasi.

Bahkan dalam beberapa kasus, drone misterius ini dilaporkan kebal terhadap upaya intervensi elektronik (jamming) dan mampu bertahan mengudara dalam waktu yang cukup lama di atas area-area terlarang.

Situasi darurat ini memaksa militer AS untuk menerapkan pembatasan operasional sementara demi keamanan, sekaligus melakukan peningkatan kapasitas sistem pertahanan udara lokal secara kilat.

Namun, ancaman ini ternyata tidak hanya terjadi di Louisiana. Masalah infiltrasi drone misterius ini juga dilaporkan mulai menyebar ke berbagai fasilitas militer sensitif dan infrastruktur kritis lainnya di wilayah Amerika Utara.

Keterbukaan USAF di hadapan Kongres ini diharapkan dapat mempercepat kucuran dana dan pengembangan teknologi kontra-drone (Counter-UAS) mutakhir, mengingat supremasi udara AS kini mulai terancam oleh perangkat murah namun mematikan yang dikendalikan oleh aktor yang hingga kini belum teridentifikasi. (RF)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *