Kapal selam nuklir USS Alaska muncul di Gibraltar usai Trump tolak proposal damai Iran

USS Alaska SSBN-732Sea Forces

AIRSPACE REVIEW – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan. Pada 10 Mei 2026, kapal selam rudal balistik nuklir milik Angkatan Laut AS, USS Alaska (SSBN-732), secara mengejutkan muncul di permukaan dan bersandar di Gibraltar.

Langkah ini dianggap sebagai unjuk kekuatan yang sangat langka, mengingat kapal selam kelas Ohio seperti USS Alaska biasanya beroperasi dalam kerahasiaan penuh di kedalaman samudra sebagai bagian dari sistem pertahanan nuklir utama Amerika Serikat.

Munculnya “monster laut” pembawa rudal nuklir ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi menolak proposal damai dan kerangka kerja nuklir yang diajukan oleh Iran.

Melalui perantara Pakistan, Teheran sebelumnya menawarkan penghentian sementara pengayaan uranium dengan syarat pencabutan sanksi ekonomi. Namun, Trump memilih posisi yang lebih keras dengan menuntut pembongkaran total seluruh infrastruktur nuklir Iran, yang memicu kebuntuan negosiasi dan meningkatkan risiko konflik bersenjata di wilayah tersebut.

Kemunculan USS Alaska di Gibraltar memegang peranan kunci. Gibraltar adalah sebuah wilayah kecil di ujung selatan Spanyol yang berada di bawah kekuasaan Inggris. Wilayah ini terletak tepat di Selat Gibraltar, sebuah celah laut sempit yang menjadi satu-satunya gerbang penghubung antara Samudra Atlantik dan Laut Mediterania.

Karena letaknya yang menjepit benua Eropa dan Afrika, Gibraltar adalah titik paling strategis di dunia untuk memantau lalu lintas kapal perang maupun perdagangan yang hendak menuju ke Timur Tengah atau Eropa Selatan.

Kehadiran USS Alaska di titik strategis tersebut mengirimkan pesan tegas bahwa ASA siap mengerahkan kekuatan nuklirnya jika stabilitas maritim, khususnya di Selat Hormuz, terus diganggu oleh Iran.

Selama proses bersandar, otoritas militer Inggris memberlakukan zona keamanan ketat sejauh 200 meter di sekitar kapal.

Analis pertahanan menilai bahwa transisi dari diplomasi meja makan ke pengerahan aset nuklir di “pintu gerbang dunia” ini menunjukkan Washington kini lebih mengutamakan strategi pencegahan militer yang nyata ketimbang negosiasi di atas kertas.

Iran Meradang

Sementara itu, menanggapi penolakan Presiden AS atas proposal balasan yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memberikan ultimatum bahwa Iran siap memberikan pelajaran tidak terlupakan terhadap setiap tindakan agresi.

“Angkatan bersenjata kita siap memberikan pelajaran terhadap setiap tindakan agresi. Strategi yang salah dan keputusan yang keliru pasti akan berujung pada hasil yang mengerikan —sebuah kenyataan yang telah lama diakui dunia. Kita siap menghadapi semua skenario; mereka akan terkejut,” ujar Qalibaf dalam akun X miliknya, Selasa (12/5).

Ia memperingatkan bahwa Iran sudah menyiapkan semua opsi yang akan membuat Amerika Serikat terkejut. (RF)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *