Era jet tempur Hornet berakhir: Korps Marinir AS mulai hapuskan jabatan teknisi F/A-18
Sea Forces AIRSPACE REVIEW – Korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps/USMC) secara resmi mengumumkan rencana untuk menghapuskan jabatan atau spesialisasi pekerjaan bintara yang terkait dengan pemeliharaan jet tempur F/A-18 Hornet. Langkah ini diambil seiring dengan transisi penuh USMC menuju armada jet tempur siluman F-35 Lightning II.
Berdasarkan pesan Administratif Marinir (MARADMIN) yang dirilis pekan ini, USMC berencana untuk menonaktifkan seluruh skadron Hornet yang tersisa pada tahun 2030.
Sejalan dengan itu, spesialisasi pemeliharaan yang terkait dengan jet tempur lawas tersebut juga akan dieliminasi.
Saat ini terdapat enam spesialisasi pekerjaan yang terdampak, termasuk peran mekanik, avionik, dan teknisi.
Para Marinir yang bertugas di bidang tersebut diberikan beberapa opsi, yaitu melakukan pelatihan ulang (retraining) untuk posisi pemeliharaan F-35, berpindah ke spesialisasi pekerjaan lain di luar penerbangan, atau keluar dari dinas militer setelah kontrak masa tugas mereka berakhir.
Meski Korps Marinir AS sangat mendorong para personel untuk pindah secara sukarela ke unit F-35, mereka juga menegaskan bahwa personel yang tidak mengajukan pindah secara sukarela dapat dipindahtugaskan berdasarkan “kebutuhan organisasi,” terlepas dari berapa lama sisa masa kontrak mereka.
Transisi ini akan dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah. Operasi Hornet dijadwalkan berakhir di beberapa pangkalan utama, yaitu di MCAS Beaufort, South Carolina (1 Agustus 2028), MCAS Miramar, California (1 Agustus 2029), dan NAS JRB Fort Worth, Texas (1 Agustus 2030).
Setelah tanggal-tanggal tersebut, jabatan spesialis pemeliharaan F/A-18 akan dinyatakan tidak ada lagi dalam struktur Korps Marinir.
F/A-18 Hornet telah menjadi tulang punggung penerbangan taktis Marinir sejak diadopsi pada tahun 1983.
Pesawat buatan McDonnell Douglas/Boeing ini memiliki sejarah panjang dalam berbagai konflik besar, termasuk di Libya, Irak, Bosnia, dan Afghanistan.
Dikenal karena ketangguhannya, Hornet mampu menjalankan misi tempur udara ke udara sekaligus menyerang target darat dalam satu misi yang sama.
Namun, demi menghadapi tantangan peperangan modern, Marinir kini beralih ke F-35 yang memiliki kemampuan siluman (stealth) dan peperangan elektronik yang jauh lebih canggih.
Menurut Rencana Penerbangan Marinir 2026, USMC menargetkan untuk memperluas armada F-35 mereka hingga mencapai 420 unit pesawat. (RNS)

