Operasi Epic Fury resmi berakhir: AS luncurkan Project Freedom untuk amankan jalur laut
US Navy AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan berakhirnya Operasi Epic Fury (Operation Epic Fury), sebuah kampanye militer intensif yang ditujukan untuk melumpuhkan infrastruktur strategis Iran.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menandai berakhirnya fase ofensif yang telah berlangsung sejak Februari 2026.
Dalam pernyataannya pada hari Selasa, Rubio menegaskan bahwa tujuan utama operasi telah tercapai. Serangan udara dan operasi militer yang dilancarkan berhasil menghancurkan fasilitas produksi rudal balistik serta melumpuhkan sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran.
Langkah ini diambil guna memastikan Teheran tidak lagi memiliki kapasitas untuk mengancam stabilitas kawasan maupun mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat.
“Fase serangan telah tuntas. Kami telah menetralisir ancaman utama sesuai dengan mandat yang diberikan,” tegas Rubio di hadapan media.
Meski Operasi Epic Fury telah dihentikan, Amerika Serikat tidak menarik diri dari Timur Tengah. Sebagai gantinya, Washington meluncurkan inisiatif baru bertajuk Project Freedom.
Dijabarkan Rubio, misi baru ini memiliki fokus utama yang berbeda, yaitu untuk mengamankan jalur pelayaran komersial, khususnya di Selat Hormuz, memastikan pasokan minyak mentah dunia tidak terganggu oleh sisa-sisa kekuatan proksi di kawasan, dan militer AS tetap disiagakan dengan prinsip “hanya akan membalas jika diserang”.
Berhentinya operasi ofensif ini juga sejalan dengan komitmen pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menjajaki solusi diplomatik.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal April 2026, AS terus berupaya merumuskan kesepakatan baru yang melibatkan sekutu regional.
Dinamika Kontradiktif Pejabat AS
Dikutip dari Aljazeera, meskipun pernyataan resmi dari Marco Rubio memberikan kesan bahwa operasi militer telah usai, situasi di lapangan sebenarnya jauh lebih kompleks dan penuh ketidakpastian.
Presiden Donald Trump justru memberikan peringatan kontradiktif melalui media sosialnya dengan menegaskan bahwa serangan akan kembali berlanjut, bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi, jika Iran tidak segera menyetujui poin-poin kesepakatan yang diajukan.
Ketidakpastian ini diperparah oleh kegagalan perundingan di Islamabad bulan lalu, yang meskipun kini memunculkan proposal baru dari kedua belah pihak, tetap menciptakan kegelisahan besar di kawasan Teluk terkait arah kebijakan luar negeri AS yang berubah-ubah secara mendadak.
Di balik layar, sedang berlangsung diplomasi rahasia yang sangat tegang, di mana Washington menggunakan blokade pelabuhan dan sanksi ekonomi sebagai alat tekan utama agar Teheran memberikan konsesi besar terkait program nuklirnya. \
Di sisi lain, para ahli menilai bahwa perubahan sikap Trump yang seolah memberikan ruang bagi diplomasi didorong oleh tekanan opini publik anti-perang di Amerika Serikat serta keinginannya untuk segera meraih kemenangan politik yang cepat.
Namun, Iran tetap bersikap waspada dan menuntut jaminan bahwa penghentian serangan ini adalah akhir dari perang yang permanen, bukan sekadar taktik jeda sementara untuk serangan berikutnya.
Langkah menuju perdamaian ini pun masih dihantui oleh berbagai hambatan besar, mulai dari tekanan Israel yang menginginkan syarat lebih berat bagi Iran, hingga gengsi politik kedua negara yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan rakyat mereka sendiri.
Bagi kepemimpinan di Teheran, program nuklir tetap menjadi simbol kedaulatan nasional yang sulit dilepaskan meskipun tekanan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz kian mencekik.
Pada akhirnya, masa depan konflik ini akan sangat bergantung pada apakah kedua pihak mampu menekan ego domestik mereka demi menghindari perang skala penuh yang lebih merusak, sembari menavigasi tekanan internasional dan biaya ekonomi yang terus membengkak. (RNS)

