AIRSPACE REVIEW – Panglima Angkatan Udara Swiss, Mayor Jenderal Peter Merz, memberikan peringatan keras mengenai kondisi pertahanan udara negaranya.
Dalam pernyataan terbaru, ia mengakui bahwa Angkatan Udara Swiss saat ini tidak dalam kondisi “siap tempur” (defense-ready) jika harus menghadapi konflik berskala besar atau serangan modern.
Seperti diberitakan AeroTime, keraguan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik di Eropa yang meningkat.
Merz menyoroti beberapa faktor utama yang menghambat kesiapan tempur Swiss, di antaranya adalah keterbatasan jumlah personel, infrastruktur yang menua, dan kebutuhan mendesak untuk modernisasi armada.
Saat ini, Angkatan Udara Swiss masih mengandalkan armada jet tempur F/A-18 Hornet dan F-5 Tiger yang sudah tua.
Meskipun Swiss telah memutuskan untuk membeli jet tempur generasi kelima F-35A Lightning II dari Amerika Serikat, proses transisi ini memakan waktu. Merz menekankan bahwa selama masa transisi ini, terdapat celah keamanan yang signifikan.
“Kami tidak siap untuk mempertahankan diri dalam konflik berkepanjangan,” ungkap Merz.
Ia menambahkan bahwa konsep netralitas Swiss tidak akan cukup untuk melindungi negara jika infrastruktur pertahanan udaranya tidak diperkuat secara menyeluruh.
Selain masalah pesawat, Merz juga menggarisbawahi masalah serius pada ketersediaan amunisi dan jumlah personel terlatih.
Ia menyebut bahwa stok amunisi saat ini hanya cukup untuk operasi jangka pendek, jauh dari standar yang dibutuhkan untuk pertahanan nasional yang berkelanjutan.
Kurangnya sistem pertahanan udara berbasis darat (ground-based air defense) juga menjadi titik lemah yang krusial.
Meskipun pengadaan sistem rudal Patriot sedang berjalan, integrasi sistem ini ke dalam jaringan pertahanan Swiss masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan logistik.
Pernyataan jujur dari kepala angkatan udara ini diharapkan dapat memicu diskusi di tingkat pemerintahan dan parlemen Swiss untuk meningkatkan anggaran pertahanan.
Merz mendesak adanya percepatan dalam pelatihan personel dan peningkatan investasi pada teknologi deteksi dini serta peperangan elektronik.
Peringatan ini mencerminkan tren yang terjadi di banyak negara Eropa lainnya, di mana para pemimpin militer mulai terbuka mengenai kelemahan pertahanan mereka setelah puluhan tahun berada dalam kondisi damai pasca-Perang Dingin. (RNS)


Ngap bingung perang 🤣🤣🤣🤣 skrg global tdk ada yg mau perang kecuali israel as krn hidup makmur nyaman aman itu lebihbptg dr perang mknya global hrs bersatu basmi perusuh as israel agar dunia tenang
Kalau AS dan Israel masih menang .hati hati negara yang punya banyak sumber energi pasti di caplok