AIRSPACE REVIEW – Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengungkapkan bahwa militer Inggris dan sekutunya berhasil melacak operasi rahasia kapal selam Rusia di wilayah perairan dekat Inggris selama lebih dari sebulan.
Operasi yang diduga bertujuan untuk mengintai infrastruktur energi dan kabel data bawah laut ini berakhir setelah armada Rusia tersebut menarik diri dari Laut Utara.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Inggris pada Kamis (9/4), operasi rahasia tersebut melibatkan satu kapal selam penyerang bertenaga nuklir kelas Akula milik Rusia serta dua kapal selam khusus laut dalam yang terkait dengan program rahasia Moskow, GUGI (Main Directorate of Deep-Sea Research).
Healey menjelaskan, kapal-kapal selam Rusia tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan survei dan berpotensi menyabotase infrastruktur bawah laut.
Hal ini menjadi ancaman serius bagi ekonomi modern yang sangat bergantung pada kabel dasar laut untuk telekomunikasi dan transfer data global.
“Kami melihat Anda, kami memantau aktivitas Anda di atas kabel dan pipa kami. Anda harus tahu bahwa setiap upaya untuk merusak infrastruktur tersebut tidak akan ditoleransi dan akan memicu konsekuensi serius,” tegas Healey dalam pesan yang ditujukan kepada pihak Rusia.
Laporan dari The Telegraph menyebutkan, Inggris mengerahkan lebih dari 500 personel untuk memantau pergerakan armada Rusia tersebut.
Operasi ini melibatkan kapal perang Angkatan Laut (Royal Navy), pesawat patroli P-8 Angkatan Udara (Royal Air Force), serta bantuan dari sekutu NATO, termasuk Norwegia.
Pesawat patroli dilaporkan terbang selama lebih dari 450 jam, sementara kapal-kapal perang menempuh ribuan mil laut untuk memastikan aktivitas Rusia tetap dalam pengawasan.
Militer Inggris juga menggunakan sonar buoys sebagai sinyal pencegah, yang menunjukkan kepada kru Rusia bahwa keberadaan mereka telah terdeteksi.
Healey menduga, pengerahan kapal selam kelas Akula sebagai pengalih perhatian agar kapal selam GUGI yang lebih kecil dan lebih terspesialisasi dapat bekerja secara rahasia di kedalaman laut tanpa terdeteksi.
Namun, upaya tersebut gagal karena seluruh pergerakan mereka terus dipantau.
Meskipun pejabat Inggris menyatakan tidak ada bukti kerusakan yang terjadi selama insiden terbaru ini, mereka menekankan bahwa kewaspadaan tetap tinggi. Insiden ini menambah panjang daftar kekhawatiran negara-negara Barat mengenai taktik perang hibrida Rusia yang menyasar titik lemah di dasar laut.
Sebelumnya, sebuah kapal kargo berbendera Rusia diperintahkan meninggalkan perairan Inggris setelah membuang sauh di lokasi yang sangat dekat dengan kumpulan kabel telekomunikasi transatlantik yang menghubungkan Inggris dengan Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, dan Portugal. (RNS)

