Ancaman meningkat di Eropa: Bukan sukarela lagi, perempuan usia 18 tahun ke atas di Denmark kini harus ikut wajib militer
Reuters AIRSPACE REVIEW – Mulai tanggal 1 Juli 2025, Pemerintah Denmark memberlakukan aturan wajib bagi perempuan Denmark yang berusia 18 tahun ke atas untuk ikut wajib militer.
Hal tersebut sebagai langkah bersejarah yang didorong oleh meningkatnya masalah keamanan di seluruh Eropa di tengah Perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
Selama ini, wajib militer di Denmark bersifat sukarela bagi perempuan. Pada tahun 2024 tercatat hanya 25% dari jumlah warga negara perempuan Denmark yang ikut program wajib militer.
Berdasarkan aturan baru, perempuan akan tunduk pada proses seleksi dan persyaratan dinas yang sama dengan laki-laki.
Kepala Program Wajib Militer Denmark Kolonel Kenneth Strøm mengutip situasi keamanan yang memburuk di kawasan tersebut sebagai kekuatan pendorong di balik perubahan ini.
“Mereka dapat mengambil bagian dalam pencegahan kolektif NATO,” ujarnya.
Menambah jumlah wajib militer, lanjut dia, akan menghasilkan kekuatan tempur yang lebih besar.
Denmark mencanangkan tahun 2033 penerimaan wajib militer tahunannya akan meningkat dari 4.700 orang menjadi 6.500 orang.
Sebagai perbandingan, Angkatan Bersenjata Denmark saat ini berkekuatan 9.000 personel dari populasi warganya yang sekitar 6 juta jiwa.
Denmark juga berencana meningkatkan secara tajam pengeluaran pertahanannya. Pada tahun 2025 ini pemerintah Denmark akan mengalokasikan 3% dari PDB-nya untuk kebutuhan militer.
“Kami melihat situasi keamanan yang semakin memburuk di Eropa. Kami memiliki konflik yang sedang berlangsung di Ukraina. Kami berfokus pada negara-negara Baltik, tempat Denmark menyumbang banyak tentara. Jadi, saya pikir ini adalah upaya umum untuk memperkuat pertahanan Denmark,” kata peneliti Rikke Haugegaard dari Royal Danish Defense College dikutip Daily Mail.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa statistik baru menggarisbawahi meningkatnya keterlibatan perempuan dalam pertahanan Ukraina.
Menurut Wakil Perdana Menteri untuk Integrasi Eropa dan Euro-Atlantik Olha Stefanishyna, lebih dari 10.000 perempuan Ukraina kini bertugas dalam peran tempur di garis depan. (RNS)

