Masih spekulatif, India negara pemesan jet tempur Su-57E

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Rusia beberapa hari lalu di pameran pertahanan internasional IDEX-2021 di Abu Dhabi menyatakan, sejumlah negara telah meminta (informasi) mengenai Su-57E dan menyatakan minatnya terhadap jet tempur generasi kelima Rusia tersebut.

Namun demikian, Rusia tidak menyebut dengan pasti para calon pelanggan Su-57E tersebut. Moskow hanya memberikan bocoran bahwa negara-negara dimaksud bukan berasal dari Timur Tengah.

Dari pernyataan itu, banyak yang menduga negara seperti Aljazair, India, Turki, Myanmar, atau Vietnam merupakan negara dimaksud.

Pada Oktober 2019, Airspace Review pernah memberitakan lima negara potensial pembeli Su-57 dari Rusia. Kelima negara tersebut sama dengan yang ditulis di atas, minus Vietnam.

Rusia sendiri pertama kali mengumumkan akan menjual jet siluman Su-57E kepada negara peminat pada pameran kedirgantaraan internasional MAKS-2019 di Bandara Zhukovsky, luar kota Moskow, yang dilaksanakan tanggal 27 Agustus – 1 September 2019.

Ankara saat itu menjadi tamu kehormatan khusus Moskow dengan diajaknya Presiden Recep Tayyip Erdogan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin membuka bersama MAKS-2019.

Usai membuka pameran, kedua pemimpin negara selanjutnya bersama-sama melihat langsung Su-57E yang dipamerkan secara statik dan melihat pertunjukan manuver empat Su-57 di udara. Su-57E adalah varian ekspor yang disiapkan Rusia bagi para pelanggan dari negara lain.

MAKS-2019TASS

Terhadap Turki, Rusia membuka pintu lebar-lebar untuk menjual Su-57E maupun Su-35 apabila negeri dua benua itu menghendaki. Sama halnya dengan penjualan sistem pertahanan udara S-400 Triumf yang telah dilaksanakan oleh Rusia terhadap Turki.

Meski demikian, atas tawaran dari Rusia tersebut hingga saat ini Turki belum secara gamblang memberikan jawaban. Sejumlah pemberitaan terakhir malah menyebut, Ankara tengah berjuang untuk melobi pemerintahan baru Presiden Joe Biden agar diizinkan lagi kembali ke program jet tempur F-35 Lightning II. Di sisi yang lain, Turki juga sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima TF-X.

Sementara Bagi AS, Turki sebenarnya salah satu pelanggan terbesar F-35. Ankara telah mencanangkan pembelian 100 unit jet siluman ini secara bertahap dan telah menerima beberapa unit yang ditempatkan di Luke AFB untuk pelatihan pilot F-35 Turki.

Turki juga terlibat dalam pembuatan komponen F-35 dan menjadi salah satu mata rantai penyuplai vital suku cadang bagi produksi F-35 oleh produsen pesawat ini, Lockheed Martin.

Hanya saja, Washington memang belum melunakkan hatinya untuk “memaafkan” Turki atas pembelian S-400. Hingga saat ini tuntutan Washington terhadap Turki masih sama dengan pemerintahan AS terdahulu, agar Turki melucuti S-400 karena sistem pertahanan udara ini tidak kompatibel dengan sistem persenjataan NATO sekaligus membahayakan F-35.

Kekhawatian lain AS, adalah terbongkarnya rahasia F-35 oleh Rusia melalui pengadaan S-400 itu. Turki sendiri membantah akan memberikan rahasia F-35 kepada Rusia. Namun AS tampaknya ragu terhadap Turki yang tampaknya memainkan politik dua kaki.

India ingin rudal Brahmos digunakan oleh Su-57

Kembali ke pokok bahasan, diberitakan bahwa India akan membeli Su-57 jika pesawat tersebut dipersenjatai dengan rudal BrahMos. Rudal ini dikembangkan bersama oleh India dan Rusia dari basis rudal antikapal permukaan supersonik P-800 Oniks (Yakhont). BrahMos disediakan dalam tiga versi untuk Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara.

India telah menggunakan rudal untuk ketiga platform ini dan berhasil mengujinya, termasuk dari pesawat tempur Su-30MKI. BrahMos (di India diberi kode PJ-10) telah diluncurkan dari kapal selam, kapal laut permukaan, wahana peluncur darat, dan pesawat.

Khusus BrahMos-A (versi untuk Angkatan Udara) telah berhasil diuji coba pertama kali menggunakan jet tempur Su-30MKI terhadap sasaran laut di Teluk Bengal pada 22 November 2017.

Sebanyak 40 jet tempur Angkatan Udara India (IAF) kemudian menjalani modifikasi agar dapat membawa dan meluncurkan rudal jelajah dengan jangkauan hingga 400 km ini.

Pada 20 Januari 2020, IAF mengumumkan bahwa satu skadron Su-30MKI yang dilengkapi dengan rudal PJ-10 BrahMos-A telah siap operasional.

BrahMosIAF

Su-30MKI meluncurkan rudal BrahMos.

Maka dari itu, sangat beralasan apabila India membeli Su-57E, kemampuan membawa rudal BrahMos oleh pesawat ini menjadi kebutuhan yang dipersyaratkan New Delhi.

Sementara Su-57, hingga saat ini belum diberitakan dapat membawa BrahMos. Pemberitaan menyebut, Su-57 telah melakukan uji penembakan rudal hipersonik baru, tetapi tidak disebutkan nama rudal tersebut.

Bulgarian Military mengutip sumber penasihat militer di Moskow memberitakan, Sukhoi sudah menganalisis kemungkinan pesawat tempur terbaru mereka dipersenjatai rudal BrahMos.

Pembicaraan mengenai kerja sama pesawat tempur generasi kelima antara India dan Rusia dapat dikatakan timbul tenggelam. Awalnya India setuju bekerja sama dengan India dalam pengembangan Su-57. Akan tetapi, India kemudian menarik diri dan diberitakan tengah mempersiapkan pesawat tempur generasi kelimanya sendiri.

Yang menarik, pada Aero India 3-5 Februari lalu di Bengaluru, Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (DRDO) dan Badan Pengembangan Aeronautika (ADA) Kementerian Pertahanan India menampilkan model pesawat tempur generasi kelima India terbaru, AMCA.

Menjadi pertanyaan, apakah India akan berjalan sendiri mengembangkan jet tempur generasi kelima sebagaimana halnya Rusia atau China?

Modi dan PutinIstimewa.

Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Vladimir Putin.

Sementara itu media Rusia dan India memberitakan bahwa India telah meninggalkan proyek Su-57 dan lebih fokus pada proyek Tejas.

Pasalnya, menurut sumber, India tidak puas dengan mesin yang digunakan Moskow pada Su-57 saat ini. India masih menunggu mesin “Izdeliye 30” yang dijanjikan Rusia.

Bersamaan dengan itu, sumber lain mengklaim kedua negara akan mengatasi kendala ini dan India akan menunggu hingga 2022 sebelum menetapkan keputusannya.

Saat ini pembicaraan-pembicaraan antara kedua belah pihak terus berlangsung untuk mencari titik terang dan kata sepakat yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *