Seribu Inspirasi di Pekan Raya STPI

AIRSPACE-REVIEW.com – Pekan Raya Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (PRS) dilaksanakan setiap tahun oleh sekolah penerbangan sipil tertua di negeri ini. Kegiatan diselenggarakan dengan kepanitiaan oleh Taruna/i STPI dari empat jurusan yang ada, yaitu jurusan Penerbang, Teknik Penerbangan, Keselamatan Penerbangan, dan Manajemen Penerbangan.

Tahun ini PRS 2019 diselenggarakan selama dua hari pada Sabtu dan Minggu (27-28 Juli 2019) di Gedung Serba Guna (GSG) STPI. Kegiatan dibuka oleh Ketua STPI Capt. Novyanto Widadi, S.AP, MM.

Pada hari pertama, STPI menghadirkan empat panelis yang berasal dari praktisi dunia penerbangan dan wirausahawan (entrepreneur) sukses. Mereka memaparkan seluk-beluk dan perjuangan membangun karier kepada lebih 1.200 peserta termasuk Taruna/i STPI.

Dua panelis dari kalangan praktisi penerbangan adalah Sudrazat M.Si (Direktur PT Wira Jasa Angkasa) dan Capt. Rizka Triansyah Leihitu (Capt Pilot Garuda Indonesia). Keduanya merupakan lulusan STPI Curug.

Sementara dua panelis dari kalangan entrepreneur adalah Natali Ardianto (Co-founder dan CEO Indopasifik Teknologi Medika Indonesia ) dan Chandra Putra Negara (Founder Success Before 30).

Keempat panelis, dengan bekal ilmu, pengalaman, perjuangan, dan visi mereka dalam mewujudkan tujuan, membagikan kiat-kiat suksesnya.

Dari apa yang dipaparkan keempat panelis, dapat ditarik benang merah dimana saat ini kreativitas, kerja keras, inovasi, dan kemampuan merepresentasikan diri pada bidang yang diminati dapat menjadi jalan untuk menggapai cita-cita.

Pesatnya dunia digital dan bergulirnya Revolusi Industri 4.0 disinyalir akan menggilas mereka yang hanya duduk diam tak punya tujuan. Demikian juga dengan bonus demografi dimana lebih 65 persen penduduk Indonesia saat ini merupakan usia produktif, akan menjadi sia-sia bila hanya menjadi korban kemajuan teknologi.

“Revolusi Industri 4.0 menghasilkan teknologi robotik dan berkembangnya perangkat lunak (software) dalam hal pemeliharaan pesawat. Peran kerja manusia akan digantikan oleh sistem robotik. Ke depan semua serba computerized. Maka dari itu generasi usia produktif harus punya bekal softskills yang cukup. Kalau tidak, maka zaman akan menggilas kalian,” ujar Sudrazat.

Sudrazat (foto: Rachmat Kartakusuma)

Sudrazat berpesan, agar tidak terzalimi oleh teknologi generasi milenial harus menyiapkan diri dan punya sikap ingin maju.

Panelis kedua Natali Ardianto menyoroti penggunaan sosial media sebagai alat promosi yang sangat ampuh, efektif, dan murah. Ia mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk melakukan branding dan menjual produk.

Ia pun menceritakan perjuangannya membangun Tiket.Com yang dirintis tahun 2009 dari yang tidak ada apa-apanya dan kini menjadi salah satu portal pilihan bagi banyak kaum pelancong dan pengguna moda transportasi.

Kemajuan teknologi digital, diakui Ardianto sangat membantu dalam upaya membangun bisnis saat ini. Ia pun berhasil melahirkan dan membesarkan sejumlah start-up berbasis internet.

Natali Ardianto (foto: Rachmat Kartakusuma)

Satu pesannya, dalam bekerja dibutuhkan semangat dan pantang menyerah. Ia mengingatkan, banyak generasi muda mencari perusahaan besar untuk bekerja. Tapi ingat, setelah lewat usia 35 tahun orang tidak lagi akan melihat Anda bekerja di perusahaan besar, melainkan seberapa besarkah Anda. “Diri kita yang dilihat, bukan lagi perusahaan tempat kita bekerja,” ungkapnya.

Panelis ketiga, Capt. Rizka yang lulusan jurusan Penerbang STPI Angkatan 59 berhasil menjadi captain pilot (bar empat) di maskapai Garuda Indonesia pada usia 29 tahun. Sebagai pilot, ia mengaku punya waktu sangat sedikit untuk bisa berbisnis. Bahkan waktu untuk bersama keluarga pun terbatas.

Tapi hal itu tak membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengembangkan bisnis. Beberapa bidang bisnis ia tekuni dan akhirnya bisa membangun sejumlah start-up yang kini mulai tumbuh besar.

Rizka memberikan kiat, dalam menjalankan roda bisnis, tak selalu ia sendiri yang mengerjakan semuanya. Ia pun lebih bertindak sebagai manajer ataupun direktur untuk mengawasi bisnis yang ia rintis.

Satu pesannya, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. “Bermanfaat bagi orang lain, sabar, dan ikhlas,” ujarnya membagi kiat-kiat sukses. Profesional menjadi pilot, namun juga tetap bisa mengembangkan bisnis. Diakui, pada saatnya profesi pilot pun akan berakhir seiring batasan usia.

Rachmat Kartakusuma
Rachmat Kartakusuma

Panelis keempat, Chandra Putra Negara menjelaskan tiga tipe manusia. Tipe pertama, ujarnya, adalah tipe galau. Orang jenis ini lebih cenderung menyikapi hidup dengan pesimis, banyak komplain, mengeluh, nyinyir, julid, dan baper. “Tipe pertama ini adalah kelompok manusia di bawah rata-rata,” jelasnya.

Yang kedua, adalah tipe baik atau tipe rata-rata. Mereka yang masuk dalam kelompok ini hidupnya pun rata-rata.

Tipe ketiga adalah tipe di atas rata-rata atau kelompok orang hebat dan luar biasa. Tipe inilah yang sangat berpotensi maju dan sukses menjadi entrepreneur.

Taruna STPI (foto: Rachmat Kartakusuma)

Chandra pun mengajak generasi muda untuk membangun bisnis dengan cara yang mudah, yaitu dengan memanfaatkan media sosial.

“Jadi, kalau kalian menggunakan media sosial itu janganlah isinya hanya nyinyir, julid, dan baper,” ujarnya. Sesungguhnya, kata dia, karakter seseorang dapat dibaca melalui apa yang ia unggah di media sosial.

“Bagaimana kalian dapat diterima kerja di perusahaan kalau yang kalian posting hanya konten-konten nyinyir, julid, dan baper,” pungkasnya.

Rachmat Kartakusuma

Para peserta yang berasal dari kalangan umum, sekolah-sekolah penerbangan, dan Taruna/i STPI dalam seminar motivasi dengan tema “Fly The Generation To Indonesia Superpower 2050” ini mendapat seribu inspirasi yang dapat diambil dari pemaparan para panelis sebagai bekal menggapai cita-cita.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *