Dana Bantuan Rp256 Triliun Belum Cair, Zelensky Desak Amerika Serikat Tepati Janji
APAIRSPACE REVIEW – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak Pemerintah Amerika Serikat untuk menepati komitmen keuangannya setelah menyuarakan bahwa dana bantuan sebesar 16 miliar USD (sekitar Rp256 triliun) yang telah disepakati dalam perjanjian sebelumnya hingga kini belum dicairkan oleh Washington.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Zelensky dalam sebuah wawancara dengan media TSN pada Kamis (5/11/2026). Ia menekankan bahwa Ukraina tidak akan tinggal diam dan bakal terus memperjuangkan hak atas dana bantuan yang masih tertahan tersebut.
“Kita perlu mengangkat isu bahwa berdasarkan kesepakatan dan keputusan terdahulu, ada $16 miliar (Rp256 triliun) yang ditahan dan belum diberikan. Bagaimanapun juga, kami bersyukur atas semua yang telah disalurkan, namun setidaknya Ukraina harus memperjuangkan dana ini,” ujar Zelensky.
Kendati mendesak realisasi janji bantuan megenai dana tersebut, Zelensky belum membeberkan perincian mengenai alokasi atau peruntukan teknis dari dana yang bersangkutan.
Peluang Paket Bantuan Baru
Selain menagih komitmen dana tertahan, Zelensky membuka peluang terciptanya paket bantuan baru pasca-pemilihan umum sela Kongres AS yang dimenangkan oleh Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Guna memastikan aliran dukungan berjalan lancar, ia juga mengingatkan krusialnya menjaga hubungan bipartisan antara Partai Demokrat dan Partai Republik di Kongres AS.
Sebelumnya, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah bersiap menuntaskan kontrak seluruh bantuan militer senilai 400 juta USD (sekitar Rp6,4 triliun) bagi Ukraina melalui skema Inisiatif Bantuan Keamanan Ukraina (USAI) sebelum 30 September 2026, dengan jadwal pengiriman alutsista yang akan dipenuhi secara bertahap hingga 2029.
Sejak konflik berskala besar meletus, Amerika Serikat secara konsisten menjadi penyokong utama Ukraina dengan mengalirkan bantuan militer bernilai puluhan miliar dolar yang telah terealisasi di lapangan. Bantuan langsung tersebut disalurkan melalui kewenangan penarikan persediaan Presiden AS (Presidential Drawdown Authority/PDA) yang mencakup berbagai alutsista vital, mulai dari sistem peluncur roket artileri mobilitas tinggi HIMARS, amunisi artileri kaliber 155 mm, hingga rudal antitank Javelin.
Selain itu, Washington juga telah menyerahkan tank tempur utama M1A1 Abrams, kendaraan tempur infanteri M2 Bradley, serta sistem pertahanan udara tingkat lanjut seperti sistem rudal Patriot dan NASAMS untuk memperkuat ketahanan wilayah udara Ukraina dari serangkaian serangan rudal serta drone.
Tak hanya pasokan perangkat keras dari stok militer AS yang ada, bentuk bantuan lain yang telah berhasil direalisasikan mencakup dukungan pelatihan bagi ribuan personel militer Ukraina di pangkalan-pangkalan NATO di Eropa. AS juga memberikan akses intelijen medan perang secara waktu nyata yang sangat menentukan efektivitas serangan balasan Ukraina, di samping bantuan hibah keuangan langsung yang dialokasikan untuk menopang stabilitas anggaran negara, membiayai gaji pegawai publik, serta menjaga keberlangsungan layanan dasar masyarakat Kiev di tengah kehancuran ekonomi akibat perang.
Proses Manufaktur dan Rantai Pasok
Di sisi lain, terdapat sejumlah komitmen bantuan yang pengirimannya masih tersendat atau belum terealisasi penuh di garis depan. Sebagian besar dari paket yang belum terealisasi ini berada di bawah skema Inisiatif Bantuan Keamanan Ukraina (USAI), di mana pemerintah AS tidak mengambil langsung pasokan senjata dari gudang militernya, melainkan menandatangani kontrak pengadaan baru dengan industri pertahanan swasta.
Proses manufaktur dan rantai pasok industri ini memakan waktu bertahun-tahun, sehingga banyak kontrak peralatan militer berat serta pasokan amunisi jarak jauh yang baru dijadwalkan tiba secara bertahap hingga kurun waktu 2026 sampai 2029.
Selain keterlambatan teknis produksi, sebagian bantuan yang belum terealisasi juga mencakup armada jet tempur F-16 beserta amunisi khusus dan suku cadangnya yang membutuhkan proses pelatihan penerbang serta mekanik yang cukup panjang.
Penundaan pencairan dana tunai sebesar 16 miliar USD yang kini diperjuangkan oleh Zelensky ini pun mencerminkan adanya hambatan administratif maupun dinamika politik internal di Washington, yang pada akhirnya menahan alokasi dana segar serta penyerahan alutsista tambahan yang sangat dibutuhkan Ukraina untuk memperkuat garis pertahanan di wilayah timur dan selatan. (PN)
