Francis Pegahmagabow, Sniper Suku Indian yang Jadi Kebanggan Militer Kanada

ANGKASAREVIEW.COM – Sebagai peranakan suku Indian kulit putih dan menjadi warga negara kelas dua di Kanada, Francis Pegahmagabow berhasil menjadi sniper (penembak runduk) legendaris. Ia berasal dari Parry Island Band, Ontario, Kanada ketika bergabung dengan Canadian Expeditionary Force.

Francis yang kemudian ditempatkan di satuan 23rdCanadian Regiment dan bermarkas di CFB Valcartier mulai menjalani misi tempur ketika Perang Dunia (PD) I meletus.

Pada Februari 1915, Francis yang saat itu sudah bergabung dengan 1stCanadian Infantry Battalion dikirim ke front Eropa untuk menghadapi pasukan Jerman dan sekutunya.

Di medan tempur Eropa, khususnya di front Perancis dan Belgia, Francis dan pasukannya terlibat dalam Perang Parit (Trench War) yang sengit dan berlarut-larut.

DI front Ypres dan Somme, Francis menunjukkan kemampuannya sebagai sniper, penyusup, dan sekaligus kurir. Tugas sebagai penghubung pasukan bahkan membuat pangkat Francis dinaikkan menjadi Kopral dan mendapat penghargaan medali militer.

Penghargaan elite itu diperoleh Francis ketika pasukan 1stCanadian mendapat tugas menggempur pasukan Jerman yang bermarkas di Passchendaele.

Dalam operasi serbuan itu, pasukan 1stCanadian sempat terpecah dan kehilangan kontak. Namun, berkat kepiawaian menyusup daerah lawan, Francis berhasil menghubungkan komando kedua pasukan sehingga bisa bersatu lagi dan melanjutkan serangan taktisnya.

Pada 30 Agustus 1918, Francis kembali menunjukkan aksi kepahlawanannya ketika pasukannya terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Jerman yang bertahan di Orix Trench (Battle of the Scarpe).

SniperPinterest

Kompi Francis nyaris kehabisan peluru, sementara pasukan Jerman terus menyerbu dan mengepungnya. Tinggal menunggu waktu bagi pasukan Jerman yang berada di atas angin untuk mendobrak jantung pertahanan lawan dan membantainya.

Dalam kondisi kritis itu, Francis yang dikenal sebagai prajurit berani mati menunjukkan kepiawaiannya.

Di bawah hujan tembakan senapan mesin dan senapan serbu Jerman, Francis merayap keluar dari kepungan untuk minta bantuan. Sambil menerobos pertahan lawan, Francis juga melepaskan tembakan jitunya menggunakan senapan Ross (Ross rifle) ke pasukan Jerman yang berusahan menghadangnya.

Upaya Francis untuk menembus kepungan lawan ternyata berhasil. Tak lama kemudian sniper ulung itu kembali ke tengah-tengah pasukannya dengan membawa amunisi yang cukup untuk menghadapi gempuran sengit pasukan Jerman.

SniperCanadian Museum

Atas aksi keberanian yang kedua itu, Francis kembali memperoleh penghargaan military medal. Penghargaan medali militer kedua bagi Francis ini merupakan peristiwa istimewa karena di militer Kanada hanya ada 39 orang yang pernah mendapatkannya.

Selama bertempur di front Eropa Barat, sebagai sniper Francis setidaknya telah berhasil membunuh 378 serdadu Jerman dan menangkap 300 tentara Jerman lainnya.

Berhubung saat bertempur sebagai sniper Francis tidak disertai oleh seorang spotter, secara politis hasil tembakan yang terkonfirmasi sering diragukan oleh pemerintah Kanada yang masih menomorduakan warga blasteran Indian kulit putih ini.

Dari sisi prestasi tempur yang berhasil diraihnya, Francis seharusnya mendapat penghargaan tertinggi dari pemerintah Kanada, yaitu Distinguished Conduct Medal atau Victoria Cross. Namun penghargaan ini jika diberikan kepada Francis bisa menimbulkan kecurigaan di kalangan perwira kulit putih Kanada.

SniperYoutube

Menyadari adanya ketidakadilan di negaranya, usai PD I Francis berusaha memperjuangkan diskriminasi berdasarkan ras itu melalui partai politik. Ia pun sempat terpilih sebagai kepala suku Indian  Parry Island Band hingga dua kali .

Perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan sebagai warga Kanada kelas satu terus diperjuangkan Francis hingga meletus PD II.

Selama PD II, Francis tidak lagi bertempur sebagai sniper, melainkan sebagai penjaga gudang senjata di Ontario dengan pangkat sersan mayor. Francis meninggal tahun 1952 dan dimakamkan di tanah reservasi Indian, Parry Island.

A Winardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *