RTAF Terima Drone Kamikaze KB-5E Buatan Dalam Negeri: Telah Terbukti Dalam Pertempuran

RTAF menerima drone kamikaze KB-5E buatan dalam negeriRTAF
RTAF menerima drone kamikaze KB-5E buatan dalam negeri.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) secara resmi telah menerima pengiriman loitering munition atau drone kamikaze tipe KB-5E dari produsen pertahanan lokal, Thai Aviation Industries Co., Ltd. Upacara penerimaan drone digelar pada 30 Oktober 2026, dipimpin langsung oleh Direktur Direktorat Persenjataan RTAF, Marsekal Muda Chanen Sukwaree.

Kehadiran drone KB-5E ini di jajaran alutsista RTAF diposisikan sebagai aset strategis pendukung dan tidak langsung dikerahkan untuk misi tempur aktif. Menurut RTAF, unit tersebut akan difungsikan sebagai drone cadangan untuk program pelatihan dan pendidikan personel, serta sebagai prototipe utama dalam pengembangan kapabilitas teknologi pertahanan dan peningkatan wawasan taktis.

Selain itu, drone ini juga akan dimanfaatkan sebagai sarana demonstrasi kapabilitas kepada berbagai instansi dan pemangku kepentingan militer terkait.

Instrumen Perang Modern

Sebagai sistem senjata jenis amunisi berkeliaran atau loitering munition, KB-5E dirancang untuk mengintai area operasi secara mandiri sebelum menubruk sasaran dengan presisi tinggi. Keunggulan taktis ini menjadikan drone bunuh diri sebagai instrumen peperangan modern yang sangat efektif untuk melumpuhkan target bernilai tinggi di medan tempur tanpa harus membahayakan awak pesawat.

Drone KB-5E merupakan amunisi serang searah (one-way attack) buatan lokal yang dikembangkan bersama oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Antariksa dan Penerbangan RTAF, Direktorat Persenjataan, serta Akademi Angkatan Udara Navaminda Kasatriyadhiraj, dengan produksi yang ditangani oleh Thai Aviation Industries. Dari segi desain, wahana nirawak ini mengusung konfigurasi sayap delta mirip Shahed yang dirancang memiliki tanda akustik dan termal rendah serta dilengkapi kapabilitas anti-jamming.

Secara teknis, KB-5E memiliki rentang sayap sepanjang 1,7 m dan membawa hulu ledak terintegrasi seberat 5 kg. Sistem pemandunya mengandalkan kombinasi navigasi GPS dan inersia (inertial navigation system / INS). Drone ini juga merupakan bagian dari keluarga alutsista yang lebih luas, termasuk model KB-10G yang berukuran lebih besar dengan hulu ledak 10 kilogram dan jangkauan hingga 500 km.

Telah Mengenyam Pertempuran

Sebelum penyerahan unit cadangan dan pelatihan ini, KB-5E telah mencatatkan debut pertempurannya pada awal Desember 2025 dalam bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja. Dalam misi tersebut, militer Thailand mengerahkan loitering munition ini sebagai bagian dari kompleks pengintaian-serangan untuk menghancurkan menara pengacak sinyal, pos radar, serta infrastruktur militer Kamboja, guna membuka jalur bagi serangan presisi jet tempur F-16.

Pengembangan serta pengadaan KB-5E melalui industri pertahanan domestik mencerminkan langkah strategis Thailand dalam merintis kemandirian alutsista nirawak. Melalui keterlibatan Thai Aviation Industries, RTAF berharap penguasaan teknologi sistem nirawak berbiaya efektif ini dapat terus dikembangkan guna mengantisipasi dinamika ancaman peperangan udara masa depan di kawasan regional. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *