Houthi Hujani Bandara Riyadh dengan Rudal, Lebih 300 Penerbangan Dibatalkan
Express, SPAAIRSPACE REVIEW – Lebih dari 300 penerbangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, dibatalkan setelah serangkaian serangan rudal melanda wilayah tersebut pada Kamis (8/10).
Data waktu nyata dari AirNav Radar mencatat setidaknya 332 penerbangan dibatalkan dan 223 keberangkatan lainnya mengalami penundaan tanpa kepastian waktu.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) pada Jumat mengonfirmasi bahwa dua hantaman serangan di Bandara Internasional King Khalid dan pada sebuah pesawat milik maskapai Saudia Airlines tersebut telah menewaskan tiga warga negara Arab Saudi serta melukai beberapa orang lainnya. Beberapa di antaranya berada dalam kondisi serius dan kini tengah mendapat perawatan di rumah sakit.
Serangan tersebut melumpuhkan operasional bandara setelah merusak salah satu terminal dan menghancurkan satu pesawat penumpang milik Saudia Airlines.
Pihak otoritas penerbangan sipil menyatakan sedang berkoordinasi dengan lembaga keamanan untuk menilai kerusakan serta mengambil langkah-langkah guna memastikan keselamatan penumpang dan pekerja di bandara.
Houthi Mengklaim Bertanggung Jawab
Kelompok pemberontak Houthi dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas insiden ini.
CNN melaporkan, serangan tersebut menggunakan kombinasi rudal jelajah, rudal balistik, dan pesawat nirawak (drone) yang mengincar sejumlah fasilitas militer dan bandara sipil di Riyadh serta Najran. Ini merupakan hari ketiga berturut-turut Houthi melancarkan gelombang serangan ke wilayah Arab Saudi.
Pihak berwenang Arab Saudi menyatakan sempat menangkis dua rudal balistik di atas langit Riyadh. Namun, puing-puing rudal yang jatuh juga merusak sebuah bangunan taman kanak-kanak dan klinik medis.
Secara keseluruhan, rangkaian serangan ke bandara di Riyadh dan Abha dalam beberapa hari terakhir telah menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 36 orang lainnya.
Eskalasi pertempuran ini memuncak seiring berlangsungnya operasi militer bertajuk Operation Dawn of Yemen.
Pasukan Pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim telah merebut kembali kota pelabuhan strategis Mocha serta posisi di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Meski demikian, pihak Houthi membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa pasukan mereka masih menguasai area kota.
Komitmen Pertahanan Bersama
Menanggapi situasi keamanan yang kian memburuk, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menyepakati komitmen pertahanan bersama dan tengah bersiap menerjunkan pasukan terkoordinasi di wilayah Arab Saudi.
Sektor penerbangan internasional turut merasakan dampak signifikan akibat kekacauan jadwal penerbangan dan gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah ini.
Sejumlah maskapai global mulai mengalihkan rute penerbangan mereka guna menghindari ruang udara Arab Saudi dan Yaman, sementara otoritas penerbangan sipil mengeluarkan peringatan risiko tinggi bagi seluruh aktivitas komersial di sekitar area konflik.
Di sisi diplomasi, komunitas internasional mendesak semua pihak yang terlibat untuk segera menahan diri guna mencegah krisis kemanusiaan dan stabilitas ekonomi kawasan yang lebih luas.
Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran global atas potensi gangguan jalur pasokan energi serta keamanan navigasi pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang merupakan salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia. (PN)
