Kabel Penahan Pesawat di USS Eisenhower Putus, Dua Pilot Super Hornet Eject, Empat Terluka
US NavyAIRSPACE REVIEW – Dua pilot Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terpaksa melontarkan diri (eject) saat jet tempur F/A-18F Super Hornet yang mereka terbangkan mengalami masalah saat pendaratan di atas kapal induk USS Dwight D. Eisenhower (CVN 69).
Peristiwa yang terjadi saat operasi penerbangan rutin di kawasan Laut Arab tersebut dipicu oleh putusnya kabel penahan pendaratan (arresting cable) ketika pesawat mendarat di geladak penerbangan.
Terputusnya kabel penahan bertegangan tinggi di geladak penerbangan menyebabkan sabetan keras yang mengenai para personel teknis di area kerja.
Empat awak geladak mengalami luka-luka dan langsung menerima perawatan medis darurat di fasilitas medis kapal induk.
Dua di antaranya kemudian dievakuasi ke fasilitas medis darat di kawasan Teluk untuk mendapatkan penanganan lanjutan, meskipun kondisi seluruh korban dilaporkan stabil dan tidak dalam ancaman bahaya jiwa.
Seperti diberitakan Fox News, saat pesawat mendarat dan gagal tertahan akibat kabel yang putus, kedua kru pesawat melontarkan diri sebelum pesawat jatuh ke laut.
Tim SAR US Navy yang bersiaga di sekitar lokasi dengan cepat menerjunkan helikopter pertolongan dan berhasil mengevakuasi kedua pilot dari perairan dalam kondisi selamat tanpa cedera serius.
Penyebab Putusnya Kabel Diinvestigasi
Pihak Komando Pusat Angkatan Laut AS (NAVCENT) mengonfirmasi bahwa insiden tersebut tidak mengganggu kelangsungan operasi penerbangan di kapal induk secara keseluruhan.
Setelah geladak dipastikan aman dan kabel penahan pengganti dipasang, operasi penerbangan kembali dilanjutkan.
Penyebab pasti putusnya kabel penahan pendaratan tersebut kini masih berada dalam proses investigasi mendalam oleh tim teknis militer AS.
Pihak militer AS saat ini tengah menurunkan tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab utama kegagalan mekanisme penangkap pendaratan tersebut.
Evaluasi teknis difokuskan pada keandalan sistem kabel arresting gear, riwayat pemeliharaan berkala, serta prosedur standar operasional keselamatan di geladak penerbangan guna mencegah berulangnya insiden serupa di masa depan.
Insiden ini terjadi hanya beberapa bulan setelah kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz tersebut kembali bertugas di lautan pada April 2026 pasca-menjalani program perawatan berkala selama 15 bulan di Galangan Kapal Angkatan Laut Norfolk.
Kendati diterpa musibah di tengah pendaratan, kesiapan tanggap darurat tim SAR dan personel medis di atas kapal terbukti tangkas dalam mengamankan seluruh korban sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. (RW)
