Tuntas 66 Unit, AIDC Serahkan Dua Pesawat Latih T-5 Brave Eagle Terakhir ke AU Taiwan

AIDC serahkan dua jet latih T-5 Brave Eagle terakhir kepada ROCAFAIDC
AIDC serahkan dua jet latih T-5 Brave Eagle terakhir kepada ROCAF.

AIRSPACE REVIEW – Produsen kedirgantaraan asal Taiwan, Aerospace Industrial Development Corporation (AIDC), secara resmi menyerahkan dua unit terakhir jet latih lanjut T-5 Brave Eagle kepada Angkatan Udara Taiwan (ROCAF) pada 24 September 2026.

Penyerahan ini sekaligus menandai tuntasnya seluruh program produksi 66 unit pesawat latih mandiri tersebut.

Dua pesawat T-5 dengan nomor serial 1165 dan 1166 lepas landas dari Pangkalan Udara Ching Chuan Kang di Taichung.

Setelah melakukan atraksi low pass di atas pabrik AIDC Shalu, kedua jet selanjutnya mendarat mulus di Gangshan, Kaohsiung yang menjadi markas Akademi Angkatan Udara ROCAF.

Chairwoman AIDC, Tsao Chin-ping, turut terbang secara langsung di dalam kokpit pesawat nomor 1166 mendampingi pilot uji perusahaan.

Momen penyerahan ini terasa sangat bersejarah karena bertepatan dengan peringatan tujuh tahun sejak peluncuran prototipe pertama T-5 pada 24 September 2019, saat Presiden Tsai Ing-wen secara resmi menyematkan nama Brave Eagle.

Berbasis F-CK-1 Ching-kuo

Program T-5 Brave Eagle diluncurkan pada tahun 2017 melalui kerja sama tiga pihak antara ROCAF, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST), dan AIDC.

AIDC bertindak sebagai kontraktor utama untuk integrasi desain, manufaktur komponen, perakitan, hingga pengujian.

Meskipun pengembangannya berbasis pada desain jet tempur F-CK-1 Ching-kuo Indigenous Defense Fighter (IDF), AIDC melakukan perombakan lebih dari 80 persen pada struktur pesawat, termasuk aerodinamika dan bentuk eksternal.

Baca di Sini: Pesan 66, AU Taiwan telah menerima unit pertama AT-5 Brave Eagle

Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pesawat ini mencapai 55 persen dengan melibatkan lebih dari 200 pemasok lokal Taiwan.

Proyek ini mencatatkan rekor akselerasi yang cepat. Dari fase desain hingga penerbangan perdana prototipe pada Juni 2020, AIDC hanya membutuhkan waktu tiga tahun dua bulan.

Produksi massal kemudian dimulai pada 2021 sebelum resmi diperkenalkan ke publik pada Juli 2022.

Kendala Rantai Pasok Global

Proses manufaktur Brave Eagle sempat menghadapi kendala akibat kelangkaan komponen impor selama pandemi COVID-19 dan dinamika geopolitik global.

Untuk menyiasatinya, AIDC bersama NCSIST, Industrial Technology Research Institute (ITRI), dan para pemasok domestik memproduksi sendiri berbagai suku cadang yang sulit didapatkan dari luar negeri.

President AIDC Chuang Hsiu-mei mengungkapkan pihaknya berhasil mengejar target dengan menyerahkan masing-masing 14 unit pesawat pada tahun 2025 dan 2026, hingga akhirnya melengkapi total pesanan 66 unit.

Pangkas Silabus Pelatihan Pilot Tempur

Kehadiran T-5 Brave Eagle secara bertahap menggantikan armada pesawat latih tua AT-3 Tzu Chung serta jet tempur F-5E/F Tiger II dalam silabus pendidikan ROCAF.

Dengan beralih ke T-5, Angkatan Udara Taiwan berhasil menyederhanakan skema pelatihan siswa penerbang dari yang sebelumnya tiga tahap menggunakan tiga jenis pesawat, menjadi tiga tahap hanya dengan dua jenis pesawat.

T-5 mampu menyediakan tahap advanced training sekaligus Lead-In Fighter Training (LIFT) sebelum para siswa bertransisi ke jet tempur lini depan seperti F-16 Vektor atau Mirage 2000.

Seiring tuntasnya fase produksi, AIDC kini mengalihkan fokus pada kontrak pemeliharaan dan dukungan logistik jangka panjang (through-life support) untuk armada T-5 serta F-CK-1.

Kontrak pemeliharaan berkelanjutan ini diperkirakan bernilai lebih dari 940 juta USD (sekitar Rp16,8 triliun). (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *