AS Hancurkan Drone MQ-9 Reaper Miliknya Usai Mendarat Darurat di Timur Tengah

MQ-9A ReaperUSAF
Drone MQ-9 Reaper Angkatan Udara AS.

AIRSPACE REVIEW – Militer Amerika Serikat terpaksa menghancurkan pesawat nirawak (drone) pengintai dan penggempur MQ-9A Reaper milik mereka setelah mengalami insiden mendarat darurat di sebuah negara di kawasan Timur Tengah yang tidak disebutkan namanya.

Langkah drastis ini diambil guna mencegah teknologi militer yang sangat sensitif tersebut jatuh ke tangan pihak musuh atau pihak yang tidak berwenang.

Berdasarkan laporan hasil investigasi dewan penyelidik kecelakaan penerbangan Angkatan Udara AS (USAF), insiden tersebut dipicu oleh kerusakan pada sistem pengkabelan bahan bakar yang menyebabkan korsleting hingga mematikan mesin secara mendadak.

Sedang Melaksanakan Misi 19 Jam

Saat gangguan terjadi, drone sedang menjalankan misi penerbangan berdurasi 19 jam di wilayah tanggung jawab Komando Sentral AS (CENTCOM).

Awak kapal yang mengendalikan pesawat dari Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth di South Dakota sempat melakukan dua kali upaya untuk menghidupkan kembali mesin di udara, namun keduanya tidak membuahkan hasil.

Pilot kemudian mengarahkan pesawat nirawak tersebut untuk meluncur tanpa mesin selama hampir 10 menit sebelum akhirnya melakukan pendaratan darurat.

Kerasnya pendaratan paksa tersebut menyebabkan roda pendaratan pesawat hancur di lokasi.

Mengingat proses evakuasi dan pemulihan drone dari lokasi pendaratan tidak memungkinkan untuk dilakukan, pasukan operasi khusus AS diterjunkan ke lokasi untuk melepas peralatan paling sensitif terlebih dahulu sebelum akhirnya memusnahkan sisa-sisa bangkai drone tersebut di tempat.

Tingginya Risiko Kerahasiaan

Penyelidikan mendapati bahwa penerbangan naas ini merupakan penerbangan pertama drone tersebut setelah menjalani perawatan rutin dan penggantian mesin oleh kontraktor sipil Amentum.

Meski demikian, tim investigasi yang dipimpin oleh Kolonel Brian Desautels menyimpulkan bahwa proses penggantian mesin yang dilakukan oleh personel perawatan bukanlah penyebab dari kerusakan kabel tersebut.

Kehilangan unit ini menambah daftar kerugian armada udara AS, di mana Angkatan Udara AS diperkirakan telah kehilangan sekitar seperempat dari total populasi drone MQ-9 Reaper miliknya akibat rentetan konflik di wilayah tersebut.

Insiden pemusnahan mandiri ini menegaskan tingginya risiko kerahasiaan teknologi yang ditanggung militer AS dalam setiap operasi nirawak di kawasan konflik.

Info Lainnya: Rugi Rp11 triliun, 24 drone canggih AS MQ-9 Reaper jatuh di wilayah Iran

Sistem sensor mutakhir, modul komunikasi terenkripsi, serta perangkat lunak navigasi yang tertanam pada armada Reaper kerap menjadi sasaran empuk eksploitasi intelijen lawan jika bangkainya berhasil diamankan secara utuh oleh kelompok musuh atau aktor non-negara.

Kehilangan unit terbaru ini diprediksi akan memperketat pengawasan teknis dan prosedur inspeksi kelistrikan pada lini armada Reaper yang tersisa.

Di saat persentase penyusutan unit kian meningkat akibat eskalasi regional dan gangguan teknis, Angkatan Udara AS dan para kontraktor terkait dituntut untuk meningkatkan standar keandalan perangkat keras demi menjaga kesiapan tempur operasional mereka di Timur Tengah. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *