Mantan bos NORAD peringatkan pangkalan udara AS rentan diserang drone seperti Rusia
IstimewaAIRSPACE REVIEW – Pangkalan udara militer Amerika Serikat di dalam negeri yang selama ini dijaga ketat dinilai tetap berisiko menjadi sasaran serangan drone spektakuler, seperti yang dialami armada pesawat pengebom Rusia. Hal ini dikatakan pensiunan Jenderal Angkatan Udara AS Glen D. VanHerck, yang juga mantan Kepala Komando Utara AS (NORTHCOM) dan Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD).
Peringatan VanHerck merujuk pada taktik tak terduga pasukan Ukraina dalam “Operation Spiderweb”. Dalam operasi tersebut, pasukan Ukraina menyusupkan truk kontainer 18 roda jauh ke dalam wilayah Rusia dan meluncurkan 117 quadcopter bermuatan bahan peledak.
Serangan mendadak tersebut berhasil menghancurkan sekitar 40 pesawat pengebom strategis serta pesawat peringatan dini Rusia, dengan taksiran kerugian infrastruktur pertahanan mencapai 7 miliar USD (sekitar Rp113,4 triliun).
Bukan Pengandaian
Ancaman semacam ini tidak lagi hanya menjadi kekhawatiran di medan perang luar negeri, melainkan berpotensi terjadi langsung di dalam wilayah AS.
Konsep operasi baru yang dikembangkan secara inovatif oleh musuh dapat memanfaatkan celah keamanan di daratan AS untuk menargetkan pangkalan militer utama maupun infrastruktur vital.
Ancaman penyusupan drone di kawasan pangkalan militer AS sendiri bukan sekadar pengandaian. USAF telah mengalami insiden penyusupan beberapa kali, termasuk penerbangan drone tak dikenal selama beberapa hari di Pangkalan Angkatan Udara Langley di Virginia, yang kemudian disusul insiden serupa di Ohio, Utah, hingga pangkalan militer di Inggris.
Baca di Sini: BREAKING: Serangan besar-besaran drone Ukraina terhadap Rusia, lebih 40 pengebom berat Rusia hancur dalam sekejap
Menanggapi kerentanan ini, pakar militer menekankan pentingnya mengubah pendekatan dari sekadar pertahanan titik (point defense) menjadi strategi perlindungan menyeluruh.
Langkah yang diusulkan mencakup perluasan jaringan sensor peringatan dini dari udara, pemetaan potensi serangan balasan terhadap fasilitas produksi drone musuh, serta peningkatan koordinasi ketat antara militer, lembaga penegak hukum lokal, dan komunitas intelijen untuk mengantisipasi potensi ancaman di dalam negeri. (PN)
