MiG-31 Foxhound: Sang ‘Super Interceptor’ Rusia yang tak tertandingi di langit Ukraina

MiG-31BM dengan rudal R-37BM_ Airspace ReviewIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Dalam kancah peperangan udara modern, nama Mikoyan MiG-31 (NATO: Foxhound) kembali mencuat sebagai salah satu aset paling mematikan milik Angkatan Dirgantara Rusia (VKS).

Jet tempur yang awalnya dikembangkan di era Uni Soviet sebagai penerus MiG-25 ini, kini terbukti menjadi momok bagi Angkatan Udara Ukraina dan tantangan serius bagi teknologi NATO.

Laporan dari Royal United Services Institute (RUSI) mengungkapkan bahwa MiG-31 telah beroperasi hampir tanpa perlawanan berarti di Ukraina.

Dengan kombinasi kecepatan tinggi dan rudal jarak jauh R-37M, Foxhound mampu menembak jatuh pesawat Ukraina dari jarak yang sangat aman.

Pesawat tempur Ukraina seringkali tidak memiliki jangkauan radar atau kecepatan untuk mengejar atau bahkan sekadar mendeteksi MiG-31 sebelum rudal dilepaskan.

Selain pertempuran udara ke udara, MiG-31 juga menjadi platform peluncur utama bagi rudal hipersonik Kh-47M2 Kinzhal.

Rudal ini mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional, menjadikannya senjata strategis Rusia untuk menghantam target vital di darat.

MiG-31 bukanlah jet tempur untuk pertempuran jarak dekat (dogfight). Pesawat ini dirancang sebagai interseptor murni.

Pesawat mampu terbang dengan kecepatan hingga lebih dari Mach 2,8. Radar phased-array pertama Zaslon-M yang dipasang pada MiG-31 dapat mendeteksi target hingga jarak 400 km dan melacak 24 target sekaligus.

Pesawat juga dilengkapi dengan data link di mana empat MiG-31 dapat bekerja sama dalam formasi, saling berbagi data radar untuk mendominasi garis depan sepanjang 900 km.

Dalam hal kapasitas persenjataan, Foxhound mampu membawa beban hingga 9.000 kg, termasuk rudal R-37M yang memiliki jangkauan hingga 400 km.

Mantan Marsekal Udara India, Anil Chopra, yang pernah menerbangkan MiG-31BM, dikutip oleh The Eurasian Times memberikan testimoni menarik mengenai jet pencegat ini.

Ia menggambarkan akselerasi MiG-31 sangat brutal. Daya dorongnya gila.

Meski sangat cepat, pengendalian pesawat ini terasa lamban dan berat, lebih mirip pesawat pengebom strategis daripada jet tempur lincah seperti MiG-29 atau Su-30.

Namun, keunggulan utamanya tetap pada kombinasi radar yang kuat dan rudal jarak jauh yang bisa meluncurkan serangan “sunyi” melalui data dari radar darat atau pesawat lain, lanjut Chopra.

Kementerian Pertahanan Rusia berencana untuk tetap mengoperasikan armada MiG-31 hingga tahun 2030 atau lebih.

Dengan program modernisasi ke standar MiG-31BM, pesawat ini tetap menjadi komponen vital dalam pertahanan udara Rusia, terutama untuk mencegat ancaman di wilayah Arktik dan sebagai peluncur senjata hipersonik masa depan. (AF)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *