Singkirkan Gripen E/F dan Rafale F4, Peru resmi memilih jet tempur F-16 Block 70 plus tanker KC-135

F-16 Viper_LMLockheed Martin

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Peru (Fuerza Aérea del Perú/FAP) secara resmi telah memilih F-16 Block 70 buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat sebagai jet tempur multiperan baru mereka.

Pemerintah Peru, pada 21 April 2026, mengumumkan hal ini dengan kesepakatan strategis mencakup 10 unit pesawat kursi tunggal (monoposto) dan dua unit kursi ganda (biposto).

Selain pesawat tempur, kontrak tersebut juga mencakup pembelian satu unit pesawat tanker Boeing KC-135R Stratotanker yang akan berfungsi untuk pengisian bahan bakar di udara, guna memperluas jangkauan operasional armada baru tersebut.

Total nilai investasi program ini diperkirakan mencapai 3,5 miliar USD (sekitar Rp 56 triliun), yang dibagi menjadi dua fase utama.

Fase Pertama, senilai 2 miliar USD, adalah untuk akuisisi 12 unit F-16 beserta paket dukungan logistik, infrastruktur, suku cadang, dan program pelatihan pilot serta teknisi.

Menariknya, akuisisi pesawat tanker KC-135 merupakan bagian dari kontrak fase pertama ini sebagai Paket Dukungan (Support Package).

Sumber lain mensinyalir bahwa KC-135 yang akan diperoleh Peru adalah pesawat bekas dari surplus Angkatan Udara AS (USAF), dengan taksiran nilai 40-50 juta USD.

Sementara Fase Kedua, senilai 1,5 miliar USD, memberikan opsi bagi Peru untuk menambah 12 unit F-16 lagi di masa depan, yang berpotensi meningkatkan total armada menjadi 24 unit.

    Keputusan ini mengakhiri persaingan ketat F-16 Block 70 (Viper) dengan jet tempur Saab Gripen E/F dari Swedia dan Dassault Rafale F4 dari Prancis.

    Kementerian Pertahanan Peru mengatakan, meski para pesaing memiliki keunggulan teknis tersendiri, Peru akhirnya memilih F-16 karena pertimbangan biaya operasional, integrasi yang lebih mudah dengan sekutu, serta basis logistik global yang sangat luas.

    F-16 Block 70 merupakan versi paling canggih dari versi lama F-16 Fighting Falcon. Pesawat baru ini dilengkapi dengan radar AESA AN/APG-83 SABR yang modern, sistem peperangan elektronik terbaru, serta kokpit digital sepenuhnya.

    Rangka pesawat dirancang untuk memiliki masa pakai hingga 12.000 jam terbang, menjamin penggunaan selama puluhan tahun.

    F-16 Viper akan menggantikan armada jet tempur tua Peru, seperti MiG-29 dan Mirage 2000, yang mulai menghadapi tantangan besar dalam hal perawatan.

    Peru mulai mengoperasikan pesawat MiG-29 bekas pada akhir tahun 1996. Sebanyak 18 unit MiG-29 (16 unit MiG-29S dan 2 MiG-29UB) dari Belarus.

    Pembelian ini sempat memicu ketegangan regional karena merupakan jet tempur generasi keempat pertama di Amerika Selatan.

    Tahun 1998 Peru membeli lagi 3 MiG-29SE baru langsung dari Federasi Rusia, sehingga total armada MiG-29 yang digunakan berjumlah 21 unit.

    Dari jumlah tersebut, sekitar delapan unit MiG-29 telah dimodernisasi menjadi standar MiG-29SMP (versi upgrade khusus Peru) pada periode 2008–2012. Sisanya sebagian besar sudah tidak operasional atau di- grounded karena masalah pemeliharaan.

    Sementara untuk Mirage 2000, Peru mengakuisisi 12 pesawat baru dari parbikan tahun 1982 dan pesawat mulai tiba pada akhir 1986. Dari selusin pesawat tersebut, 10 unit adalah varian kursi tunggal (Mirage 2000P) dan dua unit varian kursi ganda untuk latih tempur (Mirage 2000DP).

    Seluruh 12 unit pesawat buatan Dassault, Prancis tersebut sempat menjalani program modernisasi parsial sekitar tahun 2009 – 2012 untuk memperpanjang masa pakai mereka.

    Proses pengiriman pesawat pesawat F-16 Block 70 dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2029. Nantinya, jet tempur tersebut akan ditempatkan di Grupo Aéreo Nº 4 yang bermarkas di Pangkalan Udara La Joya. (RF)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *