AIRSPACE REVIEW – Insiden tragis terjadi dalam latihan militer Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF) pada Selasa (21/4) pagi. Tiga prajurit dilaporkan tewas dan satu lainnya luka parah setelah sebuah amunisi meledak di dalam turet (kubah meriam) tank Tipe 10 saat latihan tembakan langsung di area latihan Hijudai, Prefektur Oita.
Kepala Staf JGSDF, Jenderal Masayoshi Arai, mengatakan amunisi antitank kaliber 120 mm meledak secara prematur di dalam tank sekitar pukul 08.40 waktu setempat.
Penyebab pasti dari detonasi di dalam kendaraan tempur tersebut masih dalam proses penyelidikan intensif.
Tiga prajurit yang gugur berada di dalam turet tank saat ledakan terjadi. Mereka adalah Sersan Kelas Satu Kentaro Hamabe (45) sebagai sebagai komandan tank, Sersan Shingo Takayama (31) sebagai penembak (gunner), dan Sersan Kozo Kanai (30) yang bertugas sebagai petugas keselamatan (safety officer).
Sementara itu, anggota kru keempat yang merupakan pengemudi tank berhasil selamat namun mengalami luka serius.
Pengemudi tersebut berada di bagian lambung (hull) tank yang terpisah secara fisik dari area turet, sehingga selamat dari dampak fatal ledakan tersebut. Korban luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan medis.
Tank Tipe 10 (Type 10) merupakan tank tempur utama paling canggih milik Jepang yang dikembangkan oleh Mitsubishi Heavy Industries (MHI).
Kendaraan tempur lapis baja ini mulai beroperasi sejak tahun 2012 dan dilengkapi dengan meriam smoothbore 120 mm yang kompatibel dengan standar NATO.
Insiden ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan latihan paling serius yang dialami JGSDF dalam beberapa tahun terakhir.
Peristiwa ini terjadi di tengah upaya Jepang meningkatkan intensitas latihan militer dan modernisasi pertahanan di bawah Strategi Keamanan Nasional yang baru.
Pihak militer Jepang belum memberikan keterangan lebih lanjut apakah operasional latihan di Hijudai akan dihentikan sementara selama penyelidikan berlangsung.
Fokus utama tim investigasi saat ini adalah menentukan apakah ledakan disebabkan oleh kegagalan teknis pada amunisi atau adanya malfungsi pada sistem senjata tank tersebut. (RW)

