AIRSPACE REVIEW – Ketegangan di Timur Tengah yang berada di ambang perang total tiba-tiba mereda. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan penangguhan rencana serangan udara terhadap Iran selama dua minggu.
Keputusan krusial ini diambil setelah adanya intervensi diplomatik dari pemimpin Pakistan dan sinyal positif dari Teheran terkait pembukaan jalur logistik energi dunia.
Keputusan ini tidak lepas dari peran mediator Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir dalam diplomasi di menit-menit akhir batas ultimatum Trump yang akan menyerang Iran secara total.
Dalam keterangannya, Trump mengakui bahwa pembicaraan intensif dengan kedua pemimpin tersebut menjadi alasan utama Washington menahan “kekuatan penghancur” yang sedianya diluncurkan tadi malam.
“Atas permintaan mereka untuk menahan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan,” ujar Trump dalam pernyataan resminya.
Namun, komitmen AS ini bukan tanpa syarat. Trump menegaskan bahwa gencatan senjata dua sisi ini berlaku hanya jika Iran segera membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dan aman untuk navigasi internasional.
Respons cepat datang dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengajukan proposal 10 poin yang kini dianggap Washington sebagai dasar negosiasi yang masuk akal.
Iran setuju untuk menjamin keamanan perlintasan di Selat Hormuz selama masa jeda dua minggu ini.
Pengumuman ini bagaikan oase bagi ekonomi dunia. Hanya beberapa saat setelah pernyataan Trump menyebar.
Dengan pengumuman tersebut, media internasional memberitakan bahwa harga minyak mentah langsung terkoreksi tajam setelah sempat melonjak akibat kekhawatiran blokade total.
Di samping itu, indeks bursa utama di New York, London, dan Tokyo dilaporkan menguat di perdagangan pagi ini, menyambut potensi perdamaian jangka panjang.
Patut dicatat, dua minggu ke depan akan menjadi masa paling krusial bagi diplomasi modern.
Delegasi tingkat tinggi dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada Jumat, 10 April 2026, untuk merampungkan detail perjanjian damai permanen.
Meski demikian, pengamat militer memperingatkan bahwa status “siaga satu” belum sepenuhnya dicabut.
Militer AS tetap dalam posisi siap tempur di kawasan Teluk, memastikan bahwa setiap pelanggaran terhadap kesepakatan pembukaan Selat Hormuz akan direspons dengan kekuatan maksimal. Kita lihat. (RNS)

