Serangan besar terhadap Iran akan berlanjut, Trump: AS akan menghancurkan angkatan laut, program nuklir, dan rudal Iran

Trump akan menghancurkan Angkatan Laut Iran (1)US Navy

AIRSPACE REVIEW – Presiden AS Donald Trump mengatakan kampanye udara besar dan berkelanjutan masih akan dilanjutkan hingga beberapa hari atau beberapa minggu ke depan.

Tidak seperti Operation Midnight Hammer di Iran sebelumnya atau Operation Absolute Resolve di Venezuela, Trump menegaskan Operation Epic Fury akan diteruskan untuk menghancurkan kekuatan militer Iran.

Dalam serangan paling signifikan, AS yang dalam serangan ini berkolaborasi dengan Israel, telah berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat penting negara Iran lainnya dalam serangan di hari pertama.

Kematiannya Khamenei yang telah dikonfirmasi oleh meneguhkan serangan AS dan Israel sangat dahsyat dan cepat.

“Orang-orang yang membuat semua keputusan, sebagian besar dari mereka telah tiada,” kata Trump kepada NBC.

Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa mereka melancarkan serangan pembuka terhadap pejabat tingkat tinggi termasuk Khamenei.

Selain Khamenei, IDF mengatakan telah menewaskan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Nenteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, Sekretaris Dewan Keamanan Iran Ali Shamkhani, dan pejabat senior lainnya.

“Operasi dimulai dengan serangan pendahuluan setelah IDF mengidentifikasi beberapa lokasi di seluruh Teheran tempat para pejabat senior lembaga pertahanan Iran berkumpul,” ungkap IDF.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan AS percaya bahwa militer Amerika dan Israel perlu menyerang terlebih dahulu untuk meredam pembalasan Iran.

“Kami memiliki analisis yang pada dasarnya memberi tahu kami, jika kami hanya duduk diam dan menunggu untuk diserang terlebih dahulu, jumlah korban dan kerusakan akan jauh lebih tinggi daripada jika kami bertindak secara preventif dan defensif untuk mencegah peluncuran tersebut terjadi,” kata seorang pejabat senior pemerintahan kepada wartawan, seperti diwartakan Air & Space Forces Magazine.

Pejabat tersebut mengatakan penolakan Iran untuk membahas program rudal balistiknya selama pembicaraan tidak langsung baru-baru ini antara kedua pihak juga menyebabkan AS menyerang.

“Presiden, terus terang, tidak punya pilihan,” kata pejabat senior pemerintahan tersebut.

“Kita tidak bisa terus hidup di dunia di mana orang-orang ini tidak hanya memiliki rudal tetapi juga kemampuan untuk membuat 100 rudal per bulan secara terus-menerus untuk melumpuhkan pertahanan potensial apa pun. Kita tidak akan disandera oleh mereka, dan kita tidak akan membiarkan mereka menyerang kita terlebih dahulu,” lanjutnya.

Dalam pernyataannya beberapa jam setelah serangan itu, Trump menyatakan bahwa menghancurkan rudal balistik Iran adalah alasan utama dia memutuskan untuk memulai operasi tersebut.

“Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka,” kata Trump.

Trump menjanjikan kampanye yang menyeluruh. “Kita akan memusnahkan Angkatan Laut mereka, dan kita akan memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Ini pesan yang sangat sederhana,” tandasnya.

Seorang pejabat senior pemerintahan lainnya mengatakan Iran dan AS tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai status program nuklir Iran di masa depan.

Meski demikian, pemerintahan Trump belum memberikan informasi intelijen apa pun untuk mendukung klaimnya bahwa program nuklir Iran sedang berkembang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah mengakui bahwa Iran tidak memperkaya uranium dan para ahli mengatakan tidak ada indikasi bila Teheran membuat kemajuan besar dalam program nuklirnya setelah serangan Operasi Midnight Hammer Juni tahun lalu.

Badan Intelijen Pertahanan memproyeksikan pada bulan Mei bahwa Iran dapat memiliki 60 rudal antarbenua pada tahun 2035 jika Teheran memilih untuk mengadaptasi kendaraan peluncuran antariksa mereka.

Dikatakan juga bahwa militer AS berfokus pada target bernilai tinggi, termasuk fasilitas bawah tanah yang diyakini AS terkait dengan program nuklir Iran, Korps Garda Revolusi Islam, dan fasilitas angkatan laut.

Dalam serangan gelombang pertamanya, militer AS meluncurkan pesawat-pesawat tempur dari dua kapal induk yang ditempatkan di kawasan. Sementara kapal Angkatan Laut AS lainnya meluncurkan rudal jelajah serang darat Tomahawk.

AS juga mengerahkan drone serang kamikaze dan peluncur rudal HIMARS.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa jam-jam pertama operasi tersebut mencakup amunisi presisi yang diluncurkan dari udara, darat, dan laut.

“Presiden memerintahkan tindakan berani, dan para prajurit, pelaut, penerbang, marinir, penjaga, dan penjaga pantai kita yang gagah berani sedang menjawab panggilan tersebut,” kata Laksamana Brad Cooper, Panglima CENTCOM.

“Pasukan AS dan mitra mulai menyerang target pada pukul 01.15 ET untuk melumpuhkan aparat keamanan rezim Iran, dengan memprioritaskan lokasi yang menimbulkan ancaman langsung,” tambah CENTCOM.

“Target termasuk fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone, dan lapangan terbang militer,” jelas komando tersebut.

Operasi ini diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari, kata para pejabat AS.

Seorang pejabat AS mengatakan AS sebagian besar telah menekan pertahanan udara Iran, yang sudah melemah setelah serangan tahun lalu oleh Israel dan AS.

Angkatan Udara Israel mengatakan telah memperluas keunggulan udara mereka atas Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan operasi militer yang digelas AS dan Israel adalah operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah.

Angkatan Udara Israel (IAF) mengatakan mengerahkan 200 jet tempurnya dalam serangan gelombang awal dan menghantam 500 target. IAF membagikan video-video pengerahan jet tempur F-35, F-15, dan F-16 mereka yang lepas landas untuk melancarkan serangan.

Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di wilayah tersebut, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar; Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab, dan Pangkalan Dukungan Angkatan Laut Bahrain.

Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti di Yordania juga diserang, menurut media pemerintah Iran. Pemerintah negara-negara tersebut mengatakan mereka berhasil mencegat banyak rudal tersebut dan mengutuk tanggapan Iran.

Pangkalan Dukungan Angkatan Laut Bahrain terkena dampak beberapa rudal dan sebuah drone serang, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa video yang beredar di media sosial.

“Pasukan CENTCOM berhasil bertahan melawan ratusan serangan rudal dan drone Iran. ,” kata komando tersebut dalam sebuah pernyataan. “Tidak ada laporan korban jiwa atau cedera terkait pertempuran dari pihak AS. Kerusakan pada instalasi AS minimal dan tidak berdampak pada operasi.”

Angkatan Udara Italia, yang juga menggunakan Pangkalan Udara Ali Al Salem, mengatakan bahwa pangkalan Kuwait tersebut dihantam rudal, dan terdapat kerusakan signifikan pada landasan pacu di sana, meskipun pasukan Italia tidak mengalami korban jiwa. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *