AIRSPACE REVIEW – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi telah meluncurkan operasi militer skala besar yang menargetkan situs-situs strategis di seluruh Iran, menandai serangan terkoordinasi yang dilakukan bersama pasukan militer Amerika Serikat.
Dalam pidato nasional yang disampaikan tak lama setelah operasi dimulai (28/2), Kepala Staf Umum Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengumumkan bahwa pesawat Angkatan Udara Israel secara aktif menyerang ratusan target di seluruh wilayah Iran.
Disampaikan operasi bersandi Lion’s Roar tersebut sebagai upaya Israel untuk mengatasi apa yang mereka sebut sebagai ancaman eksistensial berkelanjutan yang ditimbulkan oleh kemampuan militer dan program strategis Iran.
Operasi Lion’s Roar ini menyusul aksi militer sebelumnya yang dilakukan pada bulan Juni 2025 di bawah operasi bersandi Rising Lion yang menargetkan elemen infrastruktur nuklir dan rudal balistik Iran.
Zamir menyatakan bahwa serangan-serangan sebelumnya tersebut guna menghambat proyek nuklir, merusak susunan rudal balistik, dan melemahkan rencana yang disusun dan dipimpin oleh rezim Iran bersama mitra regionalnya untuk menghancurkan Negara Israel.
Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan pasukan Amerika Serikat telah semakin erat dalam operasi Midnight Hammer, di mana pesawat-pesawat Angkatan Udara AS memberikan pukulan telak terhadap fasilitas nuklir Iran.
IDF mengatakan bahwa perencanaan operasi saat ini dilakukan selama beberapa bulan terakhir melalui persiapan operasional terkoordinasi yang melibatkan komandan senior Israel dan pimpinan militer AS.
Pilot-pilot jet Angkatan Udara Israel saat ini sedang melakukan serangan di seluruh Iran sambil beroperasi dalam kondisi risiko tinggi.
Operasi Lion’s Roar dilaporkan melibatkan 200 jet tempur, dan tercatat sebagai serangan udara terbesar dalam sejarah Angkatan Udara Israel. (RBS)

