Malaysia membatalkan rencana untuk mengakuisisi jet tempur F/A-18 Hornet bekas dari Kuwait

F-18 Hornet KuwaitIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Malaysia telah membatalkan rencananya untuk mengakuisisi jet tempur F/A-18 Hornet bekas Angkatan Udara Kuwait (KAF) untuk Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

Wakil Menteri Pertahanan Adly Zahari mengatakan keputusan tersebut secara resmi dicapai dalam rapat Kabinet pada 26 Februari setelah penilaian teknis komprehensif yang dilakukan oleh tim evaluasi TUDM yang dikirim ke Kuwait akhir tahun lalu.

“Rapat memutuskan bahwa rencana tersebut tidak akan dilanjutkan setelah mempertimbangkan hasil evaluasi teknis terhadap pesawat F/A-18 Hornet yang dilakukan oleh tim TUDM antara 11 November dan 27 November 2025,” ujar Adly di depan Dewan Rakyat, dikutip New Straits Times.

Ditambahkan bahwa hasil evaluasi menyimpulkan akuisisi Hornet bekas Kuwait akan membuat TUDM menghadapi risiko jangka panjang dan tantangan logistik.

Di antara kekhawatiran utama yang diidentifikasi adalah perkiraan jangka waktu pengiriman, penundaan tanggal mulai operasional pesawat, dan tidak adanya jaminan keberlanjutan dalam pengaturan pemeliharaan serta dukungan di luar kendali Malaysia.

Setelah pembatalan tersebut, Adly mengatakan bahwa kesiapan ruang udara negara akan menghadapi tekanan yang meningkat karena aset yang ada terus menua.

Untuk mengurangi defisit kemampuan, Kementerian Pertahanan Malaysia sekarang sedang menilai kembali jadwal pengadaan untuk pesawat tempur multiperan (MRCA) baru.

“Kami menyadari bahwa program MRCA termasuk dalam Rencana Malaysia ke-14 (14MP),” lanjut dia.

Namun, setelah keputusan Kabinet tentang Hornet, TUDM akan mempelajari apakah pengadaan MRCA harus dimajukan ke Rencana Malaysia ke-13 (13MP) atau tidak.

Ia menambahkan bahwa jika studi tersebut mengonfirmasi kebutuhan operasional yang mendesak, proses pengadaan aset tempur generasi berikutnya akan dipercepat melalui prosedur aplikasi yang sesuai di bawah rencana anggaran bergulir pemerintah yang akan datang.

Rencana Awal Hingga 39 Pesawat

Seperti diketahui, KAF memiliki armada F/A-18C/D Hornet versi “Legacy” yang masih dioperasikan dan akan dipensiunkan bila pesawat penggantinya sudah tiba.

Malaysia awalnya mengincar sekitar 33 hingga 39 unit Hornet Kuwait untuk melengkapi pesawat sejenis yang ada.

Berdasarkan evaluasi teknis TUDM pada 2024-2025, pesawat ini memiliki jam terbang yang relatif rendah, sekitar 1.500–3.000 jam terbang, dibandingkan Hornet milik Malaysia yang sudah mencapai 4.000–6.000 jam terbang.

Armada Hornet Kuwait dilengkapi dengan mesin General Electric F404-GE-402 dan mampu mengoperasikan persenjataan canggih seperti rudal AIM-9X Sidewinder, AIM-120 AMRAAM, serta beragam amunisi presisi udara ke darat.

Kuwait baru akan melepas armada Hornet-nya mereka setelah menerima penuh pesanan F/A-18E/F Block III Super Hornet dari AS.

Keterlambatan pengiriman ke Kuwait membuat Malaysia menyebabkan ketidakpastian bagi Malaysia yang membutuhkan pesawat sesegera mungkin.

Masalah lainnya ada pada Hornet Kuwait yang menggunakan perangkat lunak SCS25XK, sedangkan Malaysia sudah menggunakan standar SCS29C. Proses sinkronisasi ini akan memakan waktu dan biaya tambahan yang besar. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *