Senyap dari Radar Korsel dan Jepang, Korut Tiba-Tiba Uji Penembakan Rudal Hwasong-11D
KCNAAIRSPACE REVIEW – Korea Utara (Korut) kembali memicu sorotan internasional setelah secara mengejutkan meluncurkan uji coba rudal balistik taktis Hwasong-11D berhulu ledak munisi tandan (cluster warhead) konvensional pada 31 Oktober 2026. Laporan kantor berita resmi Korea Utara (KCNA) menyebutkan bahwa pengujian oleh Badan Administrasi Rudal ini bertujuan untuk mengevaluasi daya hancur hulu ledak tandan standar Type 2, yang mereka klaim mampu menyulap area seluas 12 hingga 13 hektar menjadi tanah hangus dengan tingkat kepadatan serangan yang sangat tinggi.
Pihak militer Pyongyang juga mengonfirmasi bahwa hulu ledak tandan kini telah dibagi menjadi empat kategori agar setiap unit tempur dapat memilih jenis amunisi yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.
Peluncuran ini sempat tidak terdeteksi oleh radar Korea Selatan (Korsel) maupun Jepang. Peneliti senior dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Joseph Dempsey, menjelaskan bahwa nihilnya peringatan dini dari negara tetangga disebabkan oleh jangkauan tembak yang relatif pendek serta lokasi sasaran yang diarahkan ke sebuah pulau kecil di lepas pantai barat Korea Utara (koordinat 38.720234, 125.114059).
Selain itu, analisis citra satelit pada pulau tersebut mengindikasikan bahwa area terdampak sebaran submunisi sebenarnya hanya berkisar 7,5 hingga 8 hektar (panjang 380–390 meter dan lebar 250–260 meter), jauh lebih kecil dibanding klaim resmi pihak Pyongyang.
Jangkauan 300 Km
Secara teknis, Hwasong-11D (atau Hwasongpho-11Ra) merupakan varian lebih kecil dari rudal balistik KN-23 (Hwasong-11A) yang dirancang khusus untuk memperkuat unit artileri garda depan. Berdasarkan estimasi Korea Defense and Security Forum (KODEF), rudal bertubuh ringkas dengan panjang 4,5 meter dan diameter 600 mm ini dioperasikan menggunakan kendaraan peluncur bergerak yang memuat empat kontainer rudal.
Sejak uji coba pertamanya pada April 2022 yang mencatat jarak 110 km berkecepatan Mach 4, jangkauan Hwasong-11D terus berkembang hingga mencapai 300 km pada Mei 2024 dengan dukungan sistem navigasi otonom terbaru. Langkah pengetesan ini kian menegaskan ambisi Korea Utara dalam memodernisasi artileri taktisnya, terlebih setelah membagikan sekitar 250 unit kendaraan peluncur rudal ini kepada Tentara Rakyat Korea beberapa bulan lalu.
Ratusan Bom Kecil
Selain peningkatan jangkauan dan sistem navigasi, adopsi hulu ledak munisi tandan pada Hwasong-11D menandai pergeseran doktrin taktis Korea Utara yang berfokus pada penghancuran target area (area-denial).
Penggunaan ratusan bom kecil (submunitions) yang tersebar luas dirancang untuk menyapu pangkalan udara, konvoi militer, serta konsentrasi pasukan lawan dalam satu kali gelombang serangan. Strategi ini dinilai para pengamat militer sengaja dikembangkan untuk menjenuhkan serta melumpuhkan pertahanan udara taktis lawan sebelum sempat merespons.
Penempatan sistem Hwasong-11D secara masif di sepanjang garis perbatasan juga semakin memperkuat ancaman terhadap infrastruktur vital di wilayah selatan Semenanjung Korea. Dengan ukuran rudal yang lebih ringkas dan mobilitas tinggi dari kendaraan peluncur beroda empat kontainer, unit penyerang dapat menyembunyikan diri dan berpindah tempat dengan cepat usai melakukan peluncuran.
Hal ini membuktikan bahwa Pyongyang tidak hanya berorientasi pada pengembangan rudal antarkawasan berjarak jauh, tetapi juga terus mempertajam taring persenjataan artileri jarak pendeknya untuk mempertahankan dominasi di kawasan regional. (PN)
