Tersisa 135 unit, jumlah drone MQ-9 AS anjlok di bawah batas minimum akibat hancur di Iran
GA-ASI AIRSPACE REVIEW – Armada drone MQ-9 Reaper Angkatan Udara AS (USAF) dilaporkan menyusut hingga tersisa sekitar 135 unit.
Penurunan jumlah ini disebabkan oleh kerugian tempur selama Operasi Epic Fury yang digelar di Iran. Operasi ini memberikan tekanan besar pada aset pesawat tanpa awak (UAV) paling diandalkan milik militer AS tersebut.
Dalam dengar pendapat di hadapan subkomite Senat pada Selasa (12/5/2026), Letnan Jenderal David Tabor, Wakil Kepala Staf urusan Rencana dan Program, mengungkapkan bahwa meskipun terjadi kehilangan unit, armada yang ada saat ini masih mampu memenuhi kontrak operasional sebanyak 56 jalur tempur (combat lines) di seluruh dunia.
Jalur tempur ini mencakup misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) yang dilakukan terus-menerus selama 24 jam.
Senator Kevin Cramer menyoroti jumlah 135 unit saat ini berada jauh di bawah batas minimum yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 189 unit.
Hal ini berarti USAF mengalami kekurangan sekitar 54 unit drone untuk memenuhi standar kesiapan ideal.
Menanggapi hal tersebut, Letjen Tabor menyatakan kekhawatiran atas tingkat kehilangan (attrition) unit MQ-9 di Timur Tengah.
Ia menyebutkan bahwa USAF saat ini sedang berupaya bekerja sama dengan Departemen Perang AS untuk mendanai pembelian kembali model MQ-9A pada tahun fiskal ini guna mengisi kekosongan inventaris.
Kerugian di wilayah udara yang diperebutkan (seperti di Iran) memaksa pihak militer AS untuk berpikir ulang mengenai strategi mereka.
Saat ini, satu unit MQ-9 dengan paket sensor lengkap bisa menelan biaya hingga 50 juta USD (sekitar Rp800 miliar). Harga yang sangat mahal ini membuat kehilangan unit secara terus-menerus menjadi beban finansial yang berat.
Mayor Jenderal Christopher Niemi, perwira tinggi USAF yang bertugas di Pentagon mengonfirmasi bahwa USAF telah menandatangani dokumen persyaratan untuk platform generasi berikutnya pada 11 Mei.
Berbeda dengan Reaper yang dirancang untuk wilayah udara yang relatif aman, penggantinya nanti akan dirancang dengan sistem modular di mana sensor dapat dilepas-pasang sesuai tingkat ancaman.
Harga unit pun ditekan agar jika drone tersebut jatuh atau ditembak musuh, tidak memberikan kerugian finansial yang signifikan (attritable).
Drone baru juga akan menggunakan teknologi manufaktur modern agar dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan cepat.
Letjen Luke Cropsey, pejabat akuisisi militer, menambahkan bahwa pihaknya telah mengeluarkan permintaan informasi (RFI) berjudul “Attritable ISR Aircraft” bulan lalu.
Lebih dari 50 perusahaan pertahanan telah merespons, menunjukkan minat yang besar terhadap pengembangan drone masa depan yang lebih kecil, lebih sederhana, namun mampu beroperasi secara massal.
Langkah ini menandai upaya paling serius USAF dalam lima tahun terakhir untuk menggantikan drone MQ-9 Reaper, yang telah menjadi “kuda beban” serangan udara dan pengintaian selama hampir dua dekade. (RF)


Perang menjadi jalan industri pertahanan buat survive. Dekaxe kedepan, gudang senjata Russia dan AS dan diisi peralatan tempur modern.