Termahal dalam sejarah: AS luncurkan program 15 kapal perang nuklir “kelas Trump” senilai Rp11.200 triliun
USN AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat resmi meluncurkan program kapal perang bertenaga nuklir kelas Trump (BBG-X) dalam rencana pembangunan kapal jangka panjang.
Program ambisius ini menetapkan pengadaan 15 unit kapal hingga tahun 2055, menggantikan proyek perusak DDG(X) guna menghadapi tantangan peperangan intensitas tinggi di Indo-Pasifik.
Program ini diproyeksikan menjadi pengadaan kapal tunggal termahal dalam sejarah dengan estimasi biaya total antara 500 miliar USD hingga 700 miliar USD (sekitar Rp8.000 triliun hingga Rp11.200 triliun) hingga tahun 2090.
Angkatan Laut AS berkomitmen membangun 15 unit kapal perang bertenaga nuklir untuk menjadi tulang punggung armada masa depan.
Biaya per unit kapal pertama (BBG(X)-1) diperkirakan menelan biaya 17,47 miliar USD (sekitar Rp280 triliun). Sebagai gambaran, dana untuk satu kapal ini setara dengan nilai 10 kapal perang kelas Iowa di masa lalu.
Secara finansial, anggaran untuk 15 kapal ini setara dengan biaya pembangunan 33 hingga 53 kapal induk kelas Gerald R. Ford atau ratusan kapal perusak standar.
Keputusan menggunakan tenaga nuklir pada ke-15 unit kapal ini didorong oleh kebutuhan daya listrik masif yang tidak bisa dipenuhi mesin gas turbin biasa.
Kapal seberat 41.000 ton tersebut dirancang sebagai platform senjata canggih yang mengintegrasikan rudal hipersonik, railgun elektromagnetik, dan sistem laser (energi terarah) untuk melumpuhkan ancaman modern.
Kapal akan difungsikan sebagai sebagai pusat komando armada yang mampu bertahan meski terjadi gangguan komunikasi satelit atau peperangan elektronik hebat.
BBG(X) memiliki gudang senjata yang jauh lebih dalam untuk mempertahankan “massa tempur” dalam konflik jangka panjang melawan musuh seimbang.
Konstruksi kapal pertama dijadwalkan mulai pada Agustus 2028 dengan target pengiriman pada 2036.
Meski demikian, rencana pengadaan 15 unit ini tak urung menghadapi tantangan besar pada kapasitas galangan kapal Newport News yang merupakan satu-satunya produsen kapal permukaan nuklir di AS.
Selain kendala teknis, keberhasilan program ini sangat bergantung pada stabilitas politik dan ketersediaan tenaga kerja ahli nuklir di Amerika Serikat selama tiga dekade ke depan.
Apakah program ini akan tewujud sebagaimana perencanaan di atas kertas? Waktu yang akan menjawabnya. (RF)

