Badai minyak dunia hantam Jin Air: Penerbangan dipangkas, nasib kru baru terkatung-katung
viper-zero AIRSPACE REVIEW – Maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Korea Selatan, Jin Air, resmi menunda tanggal mulai bekerja (onboarding) bagi puluhan calon kru kabin baru.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi “manajemen darurat” perusahaan guna menghadapi lonjakan harga bahan bakar global dan pengurangan rute penerbangan.
Menurut laporan The Chosun Daily (12/5), Jin Air menunda keberangkatan sekitar 50 anggota kru kabin baru hingga akhir September atau awal Oktober 2026. Sedianya, mereka dijadwalkan mulai menjalani pelatihan dan bekerja pada 1 Juni 2026 mendatang.
Penundaan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat para kandidat tersebut merupakan bagian dari rekrutmen gelombang pertama tahun ini yang berjumlah total 100 orang.
Sementara separuh dari total rekrutan sudah mulai menjalani pelatihan, sisanya terpaksa harus menunggu akibat ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Pihak Jin Air menyatakan, keputusan sulit ini harus diambil karena melonjaknya harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Sebagai maskapai LCC, biaya bahan bakar merupakan komponen pengeluaran terbesar yang sangat memengaruhi margin keuntungan.
Selain menunda perekrutan, Jin Air juga melakukan langkah efisiensi ekstrem lainnya.
Sepanjang Mei 2026, maskapai ini telah membatalkan total 176 penerbangan pulang-pergi pada belasan rute internasional, termasuk tujuan populer seperti Guam dan Phu Quoc.
Pembayaran insentif keamanan tahunan bagi karyawan juga dilaporkan telah ditangguhkan untuk sementara waktu.
Krisis ini ternyata tidak hanya dialami oleh Jin Air. Sejumlah maskapai LCC Korea Selatan lainnya juga mulai mengencangkan ikat pinggang.
Jeju Air dan T’way Air dikabarkan telah mulai membuka program cuti di luar tanggungan (unpaid leave) bagi kru kabin mereka selama periode Mei dan Juni.
Sementara Aero K juga menerapkan kebijakan serupa bagi seluruh stafnya untuk menekan biaya operasional.
Pemerintah Korea Selatan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja terus memantau situasi ini dengan saksama.
Pemerintah memperingatkan bahwa jika pengurangan rute terus berlanjut akibat konflik yang berkepanjangan, penyesuaian lapangan kerja secara industri di sektor penerbangan mungkin tidak dapat dihindari.
Meski demikian, manajemen Jin Air menegaskan bahwa penundaan ini bukan berarti pembatalan kontrak.
Rencana perekrutan secara keseluruhan tetap berjalan, namun jadwalnya harus disesuaikan dengan kondisi stabilitas keuangan perusahaan di tengah krisis energi. (RF)

