AIRSPACE REVIEW – Penggunaan drone FPV untuk pengintaian dan serangan kamikaze semakin meningkat penggunaannya, termasuk dalam perang modern besar seperti Rusia dengan Ukraina dan perang asimetris antara kelompok Hizbullah di Libanon dengan Israel.
Banyak produsen senjata menawarkan penangkalnya, salah satunya datang dari Novasky, perusahaan asal China, yang memperkenalkan sistem antidrone NI-L3K di gelaran DSA 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
NI-L3K menawarkan cara yang hemat biaya dan dapat dikerahkan dengan cepat untuk mengalahkan ancaman yang semakin meningkat dari drone kecil yang menargetkan pangkalan, infrastruktur, dan unit garis depan.
Desainnya mengutamakan mobilitas, integrasi modular, dan biaya pengerahan yang rendah, dapat bertindak sebagai perisai terakhir hemat biaya terhadap serangan drone massal.
Senjata laser pada NI-L3K menghasilkan daya 3 kW, yang dapat menetralisir drone dalam waktu sekitar 10 detik. Memiliki daya tahan operasional sekitar 30 menit.
Akuisisi dan pelacakan target pada NI-L3K bergantung pada sistem elektro-optik berbasis visi yang mampu mendeteksi dan mengunci target pada jarak sekitar 1,4 km.
Tidak adanya radar onboard menunjukkan kemungkinan ketergantungan pada deteksi garis pandang optik dan isyarat eksternal untuk jangkauan yang lebih luas.
Jangkauan tembak NI-L3K meliputi rentang azimut dari -175° hingga +175° dan rentang elevasi dari -15° hingga +50°, meningkatkan kemampuan untuk mengenai target di ketinggian rendah dan target yang menukik.
Sementara, mekanisme penyerangannya terdiri dari sinar laser kontinu yang diarahkan terhadap komponen drone yang kritis, seperti unit propulsi atau baterai.
Pada DSA 2026, Novasky membawa model skala NI-L3K yang menggunakan platform kendaraan double cabin Changan Hunter 2025, yang memiliki berat kosong lebih dari 2 ton dan tersedia dengan konfigurasi diesel atau listrik. (RBS)

