Perintah terbaru Trump: Tembak kapal-kapal kecil Iran di Selat Hormuz!

Trump perintahkan tembak kapal kecil cepat IranAFP

AIRSPACE REVIEW – Presiden Donald Trump secara resmi telah menginstruksikan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) untuk mengambil tindakan penghancuran terhadap armada kapal cepat Iran yang terdeteksi menyebarkan ranjau di Selat Hormuz.

Perintah “izin tembak mati” ini disampaikan melalui akun Truth Social sebagai respons atas aksi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dilaporkan menembaki tiga kapal dan menyita dua lainnya di perairan strategis tersebut.

Trump menegaskan, personel US Navy tidak boleh ragu sedikit pun untuk menenggelamkan kapal-kapal kecil Iran yang mencoba mengganggu keamanan navigasi internasional.

Klaim sepihak muncul dari Trump yang menyatakan bahwa sekitar 159 kapal perang Iran saat ini telah berada di dasar laut.

Meskipun kebenaran angka tersebut masih dipertanyakan, perintah ini secara spesifik menyasar armada kapal cepat kecil IRGC yang selama puluhan tahun menjadi andalan Iran untuk perang asimetris.

Kapal-kapal kecil lincah ini diketahui sering membawa rudal anti-kapal jarak pendek, roket artileri, serta memiliki kemampuan utama untuk menebar ranjau laut secara senyap di jalur-jalur sempit.

Guna mengantisipasi ancaman sabotase bawah air, Trump juga memerintahkan agar upaya pembersihan ranjau (mine sweeping) di Selat Hormuz segera dilipatgandakan hingga tiga kali lipat.

Laporan intelijen, dikutip The War Zone menyebutkan, Iran diperkirakan telah menyebar sekitar 100 ranjau baru dalam sepekan terakhir.

Pentagon kini menyiagakan kekuatan besar, termasuk kapal pemburu ranjau kelas Avenger seperti USS Chief dan USS Pioneer yang dikirim dari Pasifik, serta kapal Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence, USS Canberra, yang sudah berpatroli di Laut Arab.

Ketegangan semakin memanas di tengah upaya negosiasi gencatan senjata yang belum menemui titik temu.

Trump menuding adanya perpecahan internal di pemerintahan Teheran antara kelompok garis keras IRGC dan kelompok moderat sebagai penghambat kesepakatan.

Sementara AS mengklaim memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dengan dukungan tiga gugus tempur kapal induk, yaitu USS George H.W. Bush (CVN-77), USS Abraham Lincoln (CVN-72), dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) pihak Iran membalas dengan mulai memungut “tarif risiko” bagi kapal-kapal yang melintas dan mengancam akan menutup total jalur tersebut jika AS terus menekan.

Di sisi lain, tantangan logistik mulai menghantui militer AS. Beberapa pejabat administrasi mengakui bahwa intensitas konflik yang tinggi telah menguras stok munisi jarak jauh, termasuk penembakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk dan ribuan pencegat pertahanan udara sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Situasi di Selat Hormuz kini berada pada titik kritis, di mana setiap pergerakan kecil dari kapal cepat Iran bisa memicu kontak senjata besar yang melibatkan kekuatan udara dan laut AS di kawasan tersebut. (RW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *