AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Peru akhirnya mengambil langkah konkret dalam modernisasi kekuatan udaranya dengan menyetorkan pembayaran awal sebesar 462 juta USD (sekitar Rp7,5 triliun) untuk pengadaan jet tempur F-16 Block 70 dari Amerika Serikat.
Namun, ambisi militer ini harus dibayar mahal dengan stabilitas domestik dengan dua menteri utama menyatakan mundur sebagai bentuk protes.
Keputusan Presiden sementara, Jose Balcazar, untuk mencairkan dana jumbo di masa pemerintahan transisi memicu keretakan besar, yang kemudian memicu pengunduran diri Menteri Pertahanan Carlos Diaz dan Menteri Menteri Luar Negeri Hugo de Zela.
Keduanya dikabarkan tidak setuju dengan cara kepresidenan memaksakan komitmen keuangan jangka panjang yang akan membebani pemerintahan berikutnya.
Ketegangan sempat memuncak saat Balcazar membatalkan upacara penandatanganan secara mendadak, sebelum akhirnya mengonfirmasi bahwa pembayaran tetap dilakukan.
Kesepakatan dengan Lockheed Martin dari AS diprediksi mencapai nilai total 3,5 miliar USD (sekitar Rp56 triliun)
Peru berencana mengakuisisi hingga 24 jet tempur, dengan fase awal sebanyak 12 unit versi terbaru, F-16 Block 70 (F-16V).
Pesawat ini dilengkapi dengan radar AN/APG-83 AESA dan persenjataan rudal AIM-9X Sidewinder serta AIM-120 AMRAAM.
Kontrak juga mencakup dukungan pelatihan pilot, logistik jangka panjang, dan integrasi sistem dari RTX Corp & GE Aerospace.
Peru membali jet tempur terbaru F-16V untuk menggantikan peran armada Dassault Mirage 2000 dan MiG-29 peninggalan era 80-an yang dinilai sudah usang.
Langkah Peru mempertegas pergeseran geopolitiknya ke arah Barat. Sebagai negara yang baru saja ditetapkan sebagai Sekutu Utama non-NATO, Peru kini memiliki akses lebih luas terhadap teknologi militer AS.
Di sisi lain, akuisisi ini dipandang sebagai upaya AS untuk membendung pengaruh China di Peru.
Mengingat status Peru sebagai produsen tembaga global, AS berkepentingan memastikan bahwa infrastruktur strategis dan militer negara tersebut tetap selaras dengan standar interoperabilitas sekutu Barat.
Meskipun F-16 akan memberikan lompatan kuantum bagi Angkatan Udara Peru, para analis memperingatkan adanya risiko finansial.
Dengan sebagian besar beban biaya yang “diwariskan” ke pemerintahan mendatang, kelangsungan program ini akan sangat bergantung pada stabilitas politik Peru di tahun-tahun mendatang. (RW)

