AIRSPACE REVIEW – Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah narasi provokatif mulai menghantui dunia pertahanan global: apakah era jet tempur telah berakhir?
Keberhasilan drone kamikaze dan rudal balistik dalam berbagai konflik modern sempat memunculkan spekulasi bahwa investasi besar pada jet tempur berawak kini menjadi sia-sia.
Namun, bagi para pakar militer, termasuk mantan Marsekal Udara India, Anil Chopra, pandangan tersebut tidak hanya prematur, tetapi juga mengabaikan fakta-fakta fundamental di medan tempur.
Rudal, secanggih apa pun ia terbang, tetaplah senjata sekali pakai yang tidak akan pernah bisa menggantikan peran jet tempur sebagai pusat komando dan fleksibilitas di angkasa, tulisnya di portal The Eurasian Times, (19/4).
Alasan utama mengapa jet tempur tetap merajai langit terletak pada kemampuan adaptasi manusia yang ada di dalam kokpit.
Sebuah rudal, setelah diluncurkan, terikat pada lintasan atau target yang telah diprogramkan sebelumnya. Dia tidak bisa bernegosiasi dengan perubahan situasi yang dinamis.
Sebaliknya, seorang pilot jet tempur memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian ulang secara waktu nyata.
Di tengah misi, pilot bisa mengubah target, mendeteksi kawan atau lawan dengan lebih akurat, hingga membatalkan serangan jika terdapat risiko kerusakan kolateral yang tidak diinginkan.
Fleksibilitas “manusia dalam lingkaran” (human-in-the-loop) inilah yang membuat jet tempur menjadi instrumen diplomasi sekaligus penghancur yang jauh lebih presisi dibandingkan rudal balistik, tandas Marsekal Chopra.
Selain masalah fleksibilitas, jet tempur menawarkan keunggulan kinetik yang sebenarnya memperkuat efektivitas rudal itu sendiri.
Alih-alih menjadi pesaing, jet tempur justru berperan sebagai “tahap pertama” yang memberikan dorongan energi bagi persenjataan udara.
Dengan meluncurkan rudal dari ketinggian dan kecepatan supersonik, jet tempur memberikan energi kinetik awal yang membuat rudal tersebut memiliki jangkauan lebih jauh dan kecepatan lebih tinggi dibandingkan jika diluncurkan dari permukaan tanah.
Dengan kata lain, jet tempur bertindak sebagai platform peluncuran yang lincah, memungkinkan senjata-senjata canggih menjangkau area yang tidak tersentuh oleh sistem darat.
Dari sisi ekonomi pertahanan, narasi bahwa jet tempur terlalu mahal untuk dioperasikan juga perlu ditinjau ulang.
“Memang benar, harga satu unit pesawat tempur generasi kelima sangat fantastis. Namun, jet tempur adalah aset yang dapat digunakan berulang kali dalam ribuan sortie selama puluhan tahun,” lanjut Chopra.
Dalam kampanye militer yang panjang, menggunakan jet tempur untuk menjatuhkan berbagai munisi presisi yang lebih murah jauh lebih efisien daripada harus menghabiskan ratusan rudal jelajah yang harganya jutaan dolar per unit dan hancur dalam satu kali penggunaan.
“Jet tempur adalah investasi jangka panjang, sementara rudal adalah biaya operasional yang habis sekali pakai.”
Melihat ke depan, peran jet tempur justru akan semakin krusial sebagai “jangkar” dari teknologi masa depan.
Dalam konsep peperangan modern yang melibatkan kawanan drone (drone swarms), jet tempur berawak akan berfungsi sebagai pusat komando yang mengoordinasikan aset-aset tanpa awak tersebut.
Dengan dukungan sensor canggih dan sistem peperangan elektronik, jet tempur mampu menciptakan “payung elektronik” yang melindungi pasukan dari radar dan gangguan musuh.
Oleh karena itu, jet tempur tidak sedang menuju kepunahan; ia justru sedang berevolusi menjadi otak dari jaringan tempur di langit yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin otomatis mana pun. (AF)


No, Chopra salah, dia terlalu naif, terlalu “manusiawi”. Negara-negara atau entitas militer yang menggunakan rudal sebagai senjata andalan karena lebih praktis dan terjangkau, mereka sering menggunakan rudal, roket dan sekarang drone kamikaze sebagai senjata serang satu arah, mereka cenderung tidak peduli dengan kerusakan kolateral. Bagi mereka target dimana ujung rudal/roket menghujam adalah target yang sah. Jet tempur juga mampu melakukan hal demikian, yang membedakan hanyalah doktrin perang. Perang total atau perang terukur. Thanos memang benar.
Memang rudal tidak bisa menggantikan pesawat jet tempur. Bagaimana bisa menggantikan? Fungsinya jelas beda, rudah adalah senjata sedang pesawat adalah sarana pembawa senjata. Jadi sebenarnya tidak apple to apple.
Yang pasti adalah pesawat tempur tidak lagi lebih efektif dalam peperangan, bahkan berpotensi membawa kerugian besar, selain potensi kehilangan aset besar karena kehancurannya juga pilotnya bisa terbunuh atau disandera, suatu keadaan yang memicu krisis politik dalam negeri.
Sedangkan rudal tidak membawa manusia (pilot) dan sarana peluncurannya jauh lebih murah dibandingkan pesawat, dan ruang kendalinya tidak harus di angkasa melainkan cukuplah di darat, bahkan bawah tanah karena di era sekarang satelit sudah canggih, sedangkan dari aspek presisinya hampir seimbang antara jet tempur dan rudal, bisa sama-sama presisi atau sama-sama meleset. Tetapi rudal tetap lebih murah dan tidak perlu mengorbankan pilot.
Yang berpendapat inj seorang Jenderal India yang kalah perang dengan Pakistan, yang pesawatnya rontok oleh rudal Pakistan