AIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Ukraina secara resmi mengumumkan langkah penyiapan sedikitnya 25.000 sistem robotik darat (UGV) pada paruh pertama tahun 2026.
Strategi ini menandai pergeseran besar dalam doktrin militer Kyiv yang kini lebih memprioritaskan penggunaan teknologi tanpa awak untuk menggantikan peran manusia di titik-titik paling berbahaya di garis depan.
Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar tambahan alutsista, melainkan upaya sistematis untuk meminimalisir risiko kematian prajurit.
Kyiv menargetkan bahwa di masa depan, 100% aktivitas logistik di zona tempur harus dilakukan sepenuhnya oleh sistem robotik.
Kepercayaan diri Ukraina dalam mengadopsi teknologi ini didorong oleh keberhasilan luar biasa di lapangan selama kuartal pertama tahun 2026.
Tercatat, pasukan Ukraina telah melaksanakan sekitar 21.500 misi sukses menggunakan robot darat, yang mencakup evakuasi medis, pengiriman amunisi ke parit-parit terdepan, hingga operasi pembersihan ranjau yang sangat berisiko.
Salah satu pencapaian yang paling menonjol adalah laporan mengenai keberhasilan sistem tanpa awak dalam merebut posisi pertahanan musuh secara mandiri.
Dalam operasi tersebut, koordinasi antara drone udara dan robot darat berhasil memaksa pasukan lawan menyerah tanpa melibatkan satu pun personel infanteri manusia, sehingga nihil korban jiwa di pihak Ukraina.
Untuk mewujudkan visi “pasukan robot” ini, Ukraina telah membangun ekosistem industri pertahanan yang masif, melibatkan lebih dari 280 perusahaan teknologi domestik yang mengembangkan setidaknya 550 solusi aktif.
Melalui badan pengadaan pertahanan, pemerintah telah mengamankan kontrak senilai 11 miliar UAH (sekitar Rp4,4 triliun) guna memastikan keberlanjutan produksi.
Fokus utama saat ini adalah menciptakan platform robotik yang murah namun mematikan, termasuk menara otomatis untuk menangkis serangan udara dan robot tempur yang mampu bergerak lincah di medan sulit.
Dengan dukungan pusat kompetensi khusus yang baru dibentuk, militer Ukraina berharap transisi menuju perang berbasis teknologi ini dapat berjalan cepat demi menjaga kedaulatan negara sekaligus melindungi nyawa para prajuritnya. (ON)

